Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ingat Rayana Djakasurya? Sang Pemilik Suara Emas di Laga Serie A yang Membekas di Kepala Pemirsa

Tulus Widodo • Senin, 4 Agustus 2025 | 06:15 WIB
Rayana Djakasurya, komentator legendaris Serie A pada zamannya.
Rayana Djakasurya, komentator legendaris Serie A pada zamannya.

RADARTUBAN - Bagi generasi pecinta sepak bola era 1990 dan 2000-an awal, nama Rayana Djakasurya bukan sekadar pengisi suara pertandingan.

Dia adalah orator lapangan hijau, sang pendongeng Serie A, yang mampu menghidupkan nuansa duel panas Derby d'Italia antara Juventus vs Inter atau Derby della Capitale Lazio vs Roma lewat layar kaca.

Kini, namanya kembali mengemuka, dikenang sebagai komentator ikonik yang pernah menabur magis di tiap pertandingan Liga Italia.

Bukan hal aneh jika banyak netizen hari ini membandingkan gaya komentator zaman sekarang dengan "sentuhan magis" ala Rayana.

Meski tak sepopuler selebritas televisi, suara dan narasinya terekam kuat dalam memori kolektif pecinta bola.

Di masa Serie A masih rutin tayang di layar kaca Indonesia—melalui stasiun televisi RCTI—Rayana adalah salah satu figur utama di balik siaran langsung.

Bukan hanya mengabarkan jalannya laga, dia mampu menyulap 90 menit pertandingan menjadi tayangan berkelas, lengkap dengan analisis tajam, diksi elegan, dan gaya tutur bersahaja.

Komentarnya bukan cuma soal taktik dan strategi, tapi seringkali dibumbui dengan referensi budaya Italia, sejarah klub, hingga trivia pemain yang membuat pendengar merasa seperti diajak tur ke stadion San Siro atau Olimpico.

"Totti tidak sedang bermain bola, ia sedang bermain perasaan lawan..." – salah satu kutipan khas Rayana yang masih dikenang sampai hari ini.

Di tengah dominasi gaya komentator sekarang yang lebih mengandalkan teriakan atau jargon hiperbola, gaya Rayana justru menenangkan dan mengedukasi. Tidak menggebu-gebu, tapi tetap menggigit.

Narasinya mengalir, membuat penonton merasa lebih cerdas setelah menonton sebuah pertandingan.

Tak jarang juga, Rayana memperkaya tayangan dengan sentuhan filosofis dan literatur klasik, membuat komentarnya terasa seperti karya sastra mini.

Setelah Serie A kehilangan hak siar di TV nasional, nama Rayana perlahan memudar dari pemberitaan.

Namun, legacy-nya justru makin terasa seiring munculnya generasi yang merindukan masa-masa kejayaan Liga Italia di layar kaca—masa di mana suara komentator bisa menghidupkan stadion di benak penonton.

Di tengah era digital saat ini, banyak netizen dan kanal YouTube mulai kembali mengunggah cuplikan-cuplikan lama komentarnya, membuat nama Rayana Djakasurya kembali naik daun.

Bahkan, beberapa komunitas sepak bola di media sosial menyuarakan keinginan untuk Rayana kembali tampil, minimal sebagai pembicara tamu atau pengulas khusus Serie A.

Kolom komentar penuh nostalgia. Banyak yang menyebut Rayana sebagai alasan mereka jatuh cinta pada sepak bola Italia.

Di antara nama-nama besar seperti Buffon, Del Piero, Totti, hingga Maldini, suara Rayana adalah benang merah yang menjahit semua kenangan itu menjadi satu kisah: cinta pada Serie A.

Jika televisi atau platform streaming ingin menghidupkan kembali gairah Serie A di tanah air, Rayana adalah aset yang tak ternilai.

Jurnalis olahraga senior itu bukan cuma pengulas, tapi penjaga warisan—living memory dari era emas Liga Italia di Indonesia.

Di tengah banjir konten dan komentar yang seragam, Rayana Djakasurya adalah pembeda. Suaranya bukan hanya informasi—ia adalah emosi. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#san siro #Juventus #AC Milan #Liga Italia #serie A #komentator #rayana djakasurya #legendaris