Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Nadia Aulia, Mahasiswi Tuban yang Menemukan Dunia Lewat Membaca

Shafa Dina Hayuning Mentari • Senin, 3 November 2025 | 02:10 WIB

 

Nadia Aulia.
Nadia Aulia.

RADARTUBAN - Dari membaca, kita akan mengetahui apa yang belum diketahui.

Meski hanya dengan duduk-duduk, kita bisa melihat dunia dari membaca.

Juga bisa menemukan ketenangan, hingga melatih imajinasi.

Begitulah cara Nadia Aulia menggambarkan makna membaca dalam hidupnya.

Bagi dara asal Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu itu, membaca buku bukan hanya sekadar hobi, melainkan sebagai jendela melihat dunia yang lebih luas dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

‘’Aku merasa membaca sudah menjadi bagian dari hidupku dan rasanya nyaman saat sedang membaca maupun menulis,” ujar gadis 21 tahun itu.

Nadia mengaku, di tengah era digitalisali, dia lebih memilih membaca buku konvensional ketimbang e-book.

Menurutnya, sensasi memegang dan menyimpan buku memberikan kepuasan tersendiri bagi dirinya meski harganya jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan buku digital.

Salah satu buku yang sangat berkesan baginya adalah Rembulan Jatuh di Wajahmu, karya Tere Liye.

Buku itu, kata Nadia, membuka cara pandangnya tentang makna dalam kehidupan. Dari sanalah dia semakin terinspirasi untuk menjadi seorang penulis.

Tidak hanya berhenti sebagai pembaca, Nadia saat ini juga aktif menjadi seorang penulis buku dan aktif menjadi bagian dari beberapa proyek antologi.

‘’Dari membaca aku juga belajar untuk menulis. Karena memang sejak dulu juga ingin menjadi penulis,” tutur mahasiswi Universitas PGRI Ronggolawe Tuban itu.

Baginya, buku memiliki kesan dan juga makna tersendiri.

Dia bahkan terus berusaha untuk meluangkan waktu untuk membaca di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa.

Setidaknya, dia menetapkan satu hari minimal satu lembar yang harus dibacanya.

‘’Membaca sudah menjadi kebutuhan pokok bagiku. Rasanya ada yang kurang kalau sehari tidak membaca,” lanjutnya.

Di rumah, mahasiswa program studi ilmu komunikasi itu telah memiliki mini library yang dia susun dari berbagai koleksi buku sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Beberapa koleksinya bahkan kerap dia sumbangkan. Penulis idolanya antara lain Asma Nadia, Tere Liye, hingga J.S Khairen.

‘’Saat membaca, aku merasa tenang, hangat, dan hidup sebagai diriku sendiri. Menurutku, buku juga sebagai konsumsi ilmu yang tidak pernah habis, baik itu fiksi maupun non fiksi,” tandasnya. (saf/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#dunia #jenu #membaca #buku #digitalisasi