Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Alami Pendangkalan, Bekas Pelabuhan Dagang Tuban Sulit Dihidupkan

Yudha Satria Aditama • Kamis, 21 September 2023 | 19:55 WIB
TEMPAT HIBURAN: Pantai Boom yang dulunya aset milik pemerintah yang dikelola Pelabuhan Indonesia (Pelindo) kini jadi destinasi wisata.  (Yudha Satria Aditama/Radar Tuban)
TEMPAT HIBURAN: Pantai Boom yang dulunya aset milik pemerintah yang dikelola Pelabuhan Indonesia (Pelindo) kini jadi destinasi wisata. (Yudha Satria Aditama/Radar Tuban)

RADARTUBAN.COM - Mengacu prasasti Tugu Kambang Putih, dijelaskan bahwa Tuban mendapat julukan sebagai Kota Pelabuhan di era 1050 Masehi.

Namun sayangnya, masih minim bukti lain yang menguatkan Tuban sebagai kota perdagangan internasional pada zaman dulu.

Meski sempat diteliti oleh tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Timur, namun status keberadaan bekas pelabuhan itu tak kunjung jelas.

Lantas, apakah pelabuhan dagang di Tuban bisa dihidupkan kembali? Direktur Pengelola Pelindo (Pelabuhan Indonesia) Putut Sri Muljanto saat berkunjung di SMAN 1 Tuban, Senin (18/9) menjelaskan bahwa cukup sulit mengaktifkan kembali Tuban sebagai pelabuhan.

Faktor utamanya yakni perairan di Tuban banyak mengalami pendangkalan.

‘’Juga akan menyulitkan kapal apabila jarak antar pelabuhan dengan pelabuhan lain terlalu dekat,’’ tuturnya.

Pejabat kelahiran Magetan itu mengungkapkan, Pantai Boom dulu merupakan aset milik pemerintah di bawah Pelindo.

Saat itu, kata dia, sempat ada wacana mengaktifkan kembali Pantai Boom sebagai salah satu pelabuhan di Jawa Timur.

Namun, ternyata tidak memungkinkan. Alasannya, lokasi Pantai Boom terlalu dekat dengan Surabaya, yang lebih dulu memiliki pelabuhan aktif.

‘’Sehingga waktu itu Pelindo menyerahkan Pantai Boom untuk dikelola pemerintah daerah dan akhirnya jadi wisata,’’ jelas dia.

Selanjutnya, Putut menjelaskan, secara teknis kedalaman laut di pelabuhan harus lebih dari sepuluh meter.

Sedangkan kedalaman laut di sekitar Pantai Boom sudah sangat dangkal dan tidak memungkinkan untuk kapal besar berlabuh.

Menurut dia, pendangkalan adalah hal yang biasa terjadi di laut. Apalagi, sejarah pelabuhan di Tuban diketahui sudah lebih dari satu abad yang lalu.

‘’Sehingga alam sudah banyak mengalami perubahan yang sulit untuk diubah lagi oleh manusia,’’ kata dia.

Meski tak lagi memiliki pelabuhan, pejabat lulusan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini yakin bahwa darah keturunan pelaut di masyarakat Tuban tak luntur begitu saja.

Dia yakin banyak pelaut yang lahir dari darah pelaut pula. Maka dari itu, sejumlah posisi strategis di Pelindo—BUMN yang membidangi pelabuhan tersebut beberapa diisi oleh warga dari pesisir, termasuk Tuban.

‘’Saya yakin, kalau Tuban adalah kampungnya para pelaut,’’ tegas dia. (yud/tok)

Editor : Amin Fauzie