RADARTUBAN – Persebaran kasus demam berdarah dengue (DBD) di Tuban semakin mengkhawatirkan. Apalagi, sekarang memasuki musim penghujan seperti sekarang ini. Hampir saban hari terdapat pasien DBD.
Berdasar data Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban, total kasus DBD di Kota Legen hingga akhir November lalu tercatat sebanyak 762 kasus.
Dari angka sementara tersebut, sebanyak sembilan pasien meninggal dunia. Ini sekaligus menjadi kasus kematian terbanyak selama beberapa tahun terakhir.
Selain kasus kematian, jumlah pasien DBD yang tercatat sepanjang sebelas bulan terakhir ini juga menunjukkan tren peningkatan yang cukup signifikan dibanding dua tahun sebelumnya. Yakni, sebanyak 651 kasus pada 2022 dan 203 kasus di 2023.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB), Esti Surahmi melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, S. A. Ratnasari memaparkan, tujuh ratus lebih kasus DBD itu tersebar merata di 20 kecamatan se-Kabupaten Tuban.
Karena itu, seluruh masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga pola hidup bersih dan sehat. ‘’Terlebih, sekarang memasuki musim penghujan,’’ katanya.
Pola hidup bersih dan sehat itu, terang Ratna, yakni menerapkan 3M plus: menguras, menutup tempat penampungan air, dan mendaur ulang barang tak terpakai, serta ditambah menaburkan larvasida atau bubuk abate.
Meski imbauan ini berlaku untuk semua, namun perhatian lebih disampaikan kepada keluarga yang memiliki anak kecil. Sebab, imun anak-anak masih cukup lemah.
‘’Sembilan pasien yang meninggal itu didominasi anak-anak di bawah usia 15 tahun. Jadi, anak–anak menjadi yang paling rentan mengalami kematian karena sistem kekebalan tubuhnya yang tidak sekuat orang dewasa,’’ terang Ratna.
Sembilan pasien meninggal itu, terang Ratna, dua kasus masing-masing dari Kecamatan Merakurak, Jenu, dan Bangilan. Sisanya, satu kasus masing-masing dari Kecamatan Kenduruan, Parengan, Palang.
Disampaikan Ratna, selain mengoptimalkan 3M Plus, tidak kalah penting adalah upaya pencegahan berupa pemberantasan atau pembersihan sarang nyamuk. ‘’PSN dan 3M plus ini lebih baik dibandingkan dengan melakukan fogging,’’ tegasnya.
Dijelaskan dia, keseringan fogging akan membuat nyamuk resisten terhadap kandungan kimia saat pengasapan.
‘’Penting untuk menjadi pemahaman bersama, fogging hanya dapat membunuh nyamuk dewasa saja, tapi tidak dengan jentik nyamuknya,’’ tandasnya. (saf/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama