RADARTUBAN – Warga di sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo bisa bernapas lega. Mulai Jumat (28/2), banjir akibat luapan sungai terpanjang di Pulau Jawa itu berangsur surut.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban Sudarmaji mengatakan, desa-desa dan ratusan hektare lahan pertanian yang sebelumnya tergenang bah, kini perlahan surut.
‘’Beberapa fasilitas umum seperti sekolah, kantor balai desa hingga masjid, juga sudah mulai dilakukan pembersihan oleh petugas,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Berdasar pengamatan tinggi muka air di papan duga Babat, pada pukul 16.00 kemarin sudah kembali normal—di level hijau dari sebelumnya siaga merah.
‘’Meski tren airnya surut, masyarakat di sepanjang bantaran sungai tetap kami imbau untuk waspada dengan potensi adanya kiriman air dari hulu. Terlebih, curah hujan selama beberapa hari ke depan diprediksi masih cukup tinggi,’’ bebernya.
Sudarmaji menuturkan, dirinya bersama jajarannya terus memonitoring seluruh desa di sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo wilayah Tuban.
‘’Kami lakukan pemantauan secara berkala, terlebih kabarnya wilayah Bojonegoro hari ini (kemarin, Red), kembali siaga kuning, padahal sehari sebelumnya telah turun di siaga hijau,’’ ungkap dia.
Tren penurunan air di wilayah Kecamatan Rengel dan Plumpang memiliki perbedaan. Wilayah Rengel memiliki cekungan daratan rendah yang menjorok cukup dalam dan luas.
Sehingga, jika terdampak banjir, alirannya cukup cepat menyebar dan proses surutnya cukup lama. Berbeda dengan wilayah Kecamatan Plumpang yang tidak memiliki cekungan daratan rendah.
‘’Selain itu, wilayah daratan rendahnya juga dekat dengan sungai. Sehingga lebih cepat surut,’’ tandasnya. (an/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama