RADARTUBAN - Dosen Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban Inarotul A’yun menyampaikan pandangannya terkait penerapan Jalan Basra searah.
Menurut dia, di satu sisi, penerapan kebijakan tersebut menjadikan lalin lebih lancar dan tertib, sehingga tidak terjadi kemacetan dan lebih nyaman.
Namun, di sisi lain, sebagian besar pemilik usaha mengalami penurunan omset karena akses kendaraan dari arah tertentu terbatas.
Itu karena jika ingin membeli sesuatu di pertokoan maupun mengakses layanan jasa di sepanjang jalur tersebut harus putar balik.
‘’Dampaknya bisa berbeda-beda tergantung jenis usaha dan kebiasaan konsumen. Idealnya memang perlu ada kajian lebih lanjut dengan melihat data omset pedagang sebelum dan sesudah kebijakan tersebut, agar bisa terlihat gambaran dampak ekonominya secara lebih akurat,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Alumni Magister Ekonomi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim itu menyampaikan, secara umum penerapan jalur dua arah berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi karena arus kendaraan dari kedua sisi bisa masuk, sehingga peluang konsumen yang lewat juga lebih besar.
Hal ini menunjukkan bahwa perubahan pola lalu lintas memang bisa langsung berimbas pada pergeseran perilaku ekonomi masyarakat.
‘’Namun sekali lagi, efek riilnya tetap dipengaruhi oleh faktor lain, seperti daya tarik usaha,
lokasi toko, serta pola belanja masyarakat. Jadi kebijakan lalu lintas memang punya peran, tapi bukan satu-satunya faktor penentu peningkatan ekonomi,’’ tandasnya.
Pendapat berbeda disampaikan Kepala Dinas Komunikasi, Informasi, Statistik, dan Persandian (Diskominfo SP) Tuban Arif Handoyo.
Dia menyebut, masyarakat Tuban sudah beradaptasi, baik dari sisi sosial maupun dan ekonomi dalam menyikapi sistem searah Jalan Basra.
‘’Selama ini dari sisi ekonomi tetap berjalan bagus. Kondisi ini menjadikan masyarakat menyesuaikan dengan kondisi yang ada, termasuk perekonomian,’’ terangnya. (saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama