RADARTUBAN – Seperti pepatah sudah jatuh ketimpa tangga. Itulah kondisi yang dialami Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Tuban.
Kurang lebih baru empat bulan membelanjakan anggaran operasional Bus Si Mas Ganteng yang sudah diefisiensi akibat pemangkasan dana transfer ke daerah (TKD) oleh pemerintah pusat, tiba-tiba harga bahan bakar minyak (BBM) naik signifikan.
Sebagaimana diketahui, operasional BBM Bus Si Mas Ganteng pada tahun anggaran 2026 hanya dianggarkan Rp 3,6 miliar, atau menyusut sekitar Rp 983 juta dari tahun 2025 sebanyak Rp 4,6 miliar.
Anggaran tersebut diperuntukkan membeli BBM non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamina Dex untuk 20 feeder dan 20 bus Si Mas Ganteng.
Baca Juga: Bus Si Mas Ganteng Tetap Gratis, Pemkab Tuban Masih Tanggung Operasional 2026
Namun, sejak pertengahan April lalu, harga BBM non-subsidi sudah naik dua kali. Pertamax Turbo RON 98 dari Rp 13.100 menjadi Rp Rp 19.900 per liter, Dexlite dari Rp 14.200 menjadi Rp 26.000 per liter, dan Pertamina DEX melesat hampir dua kali lipat—dari Rp 14.500 menjadi Rp 27.000 per liter.
Lantas, bagaimana nasib operasional BBM Bus Si Mas Ganteng seiring dengan lonjakan harga BBM yang ugal-ugalan akibat perang di Timur Tengah tersebut?
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan (DLHP) Tuban Anthon Tri Laksono mengatakan, meski ada kenaikan BBM dan anggaran operasional telah diefisiensi, pihaknya tetap mengupayakan pelayanan optimal.
‘’Kuncinya, kami harus memutar otak agar anggaran yang tersedia bisa tetap memenuhi kebutuhan BBM yang saat ini terus naik,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Untuk menyiasati beban operasional yang semakin tercekik tersebut, mulai tahun ini DLHP membuka opsi menyewakan kendaraan Si Mas Ganteng untuk masyarakat umum. Itu dilakukan demi mendapat pemasukan dan mengurangi beban operasional Si Mas Ganteng.
‘’Selama ini berfungsi sebagai angkutan pelajar, sehingga tidak dipungut biaya atau gratis,’’ ujarnya.
Lebih lanjut, Anthon mengatakan, bagi masyarakat umum yang ingin memanfaatkan kendaraan Si Mas Ganteng, baik yang fider maupun bus, bisa menghubungi dinas terkait.
‘’Misalnya, untuk kegiatan wisata berkeliling Tuban atau kegiatan lain. Untuk harganya sudah disediakan, termasuk paket wisata,’’ jelasnya.
Dengan terobosan tersebut, terang Anthon, selain bisa menambal operasional Si Mas Ganteng yang mengkis-mengkis akibat kebijakan efisiensi, juga bisa menambah pendapatan asli daerah (PAD). ‘’Jadi, terobosan baru ini juga bisa menambah PAD,’’ imbuhnya.
Bagaimana jika hasil sewa kendaraan Si Mas Ganteng masih tidak ngatasi untuk menambal kekurangan BBM? ‘’Kalau sampai akhir tahun tidak cukup, nanti akan kami ajukan penambahan anggaran di perubahan (APBD, red),’’ tandasnya. (fud/tok)
Editor : Yudha Satria Aditama