Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Bersihkan Pusaka Sekaligus Bersihkan Hati, Intip Uniknya Jamasan Pusaka di Semanding Tuban

Shafa Dina Hayuning Mentari • Selasa, 7 Juli 2026 | 17:03 WIB
Seorang pemangku budaya dari Paguyuban Tosan Aji Megalamat Tuban tampak khidmat memandikan keris dalam kegiatan Jamasan Pusaka Massal, Minggu (5/7). (Paguyuban Tosan Aji Megalamat Tuban untuk Radar Tuban)
Seorang pemangku budaya dari Paguyuban Tosan Aji Megalamat Tuban tampak khidmat memandikan keris dalam kegiatan Jamasan Pusaka Massal, Minggu (5/7). (Paguyuban Tosan Aji Megalamat Tuban untuk Radar Tuban)

RADARTUBAN - Tradisi membersihkan pusaka lekat dengan nilai budaya, sejarah, dan spiritualitas. Nilai-nilai itulah yang tersaji pada jamasan pusaka massal di Desa Bejagung Kidul, Kecamatan Semanding, Minggu (5/7).

Puluhan masyarakat mengikuti ritual tahunan yang menjadi ikhtiar merawat warisan leluhur sekaligus memperkuat ingatan kolektif terhadap akar kebudayaan.

Masyarakat datang membawa berbagai pusaka warisan keluarga untuk disucikan. Namun, prosesi tahun ini tidak hanya melibatkan pusaka milik warga.

Sejumlah benda bersejarah yang memiliki jejak penting dalam sejarah Tuban juga ikut dijamas, mulai dari pusaka utama Megalamat, pusaka peninggalan Sunan Bejagung, hingga keris warisan Pahlawan Nasional Jenderal Basuki Rahmat.

Baca Juga: Mirip Kata Bin dalam Budaya Arab, Ternyata Ini Arti Mendalam Akhiran Ic pada Nama Pemain Kroasia

Bagi para pegiat budaya, jamasan bukan sekadar membersihkan karat atau merawat bilah keris agar tetap terjaga. Tradisi tersebut dipahami sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.

Yupiter Utomo, pengurus Paguyuban Tosan Aji Megalamat Tuban mengatakan, prosesi jamasan memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar perawatan fisik benda pusaka.

"Kita berupaya keras melestarikan adat dan budaya, khususnya terkait tata cara jamasan pusaka yang benar. Jamasan itu bukan hanya membersihkan fisik luar saja, namun secara makna juga merawat daya, nilai historis, serta energi yang terkandung di dalamnya," ujar Yupiter di sela memantau jalannya jamasan. 

Semangat pelestarian budaya itu juga diwujudkan melalui rangkaian kegiatan yang menyertai ritual jamasan. Mengusung tema Bersihkan Pusaka, Bersihkan Hati, Lestarikan Budaya, Wariskan untuk Generasi, panitia menggelar diskusi budaya mengenai sejarah dan filosofi tosan aji, pameran pusaka, hingga kirab pusaka yang menjadi penutup acara.

Yupiter menyampaikan, pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan. Paguyuban kini tengah merancang langkah jangka panjang dengan menghidupkan kembali besalen, yakni bengkel tradisional tempat para empu menempa besi menjadi keris beserta tungku dan perlengkapan pendukungnya.

"Komitmen kelestarian ini akan terus kita upayakan secara nyata lewat eksistensi besalen. Ini akan menjadi wadah dan tempat kerja nyata bagi para empu masa kini untuk berkarya," tambahnya.

Melalui upaya tersebut, lanjut dia, Paguyuban Tosan Aji Megalamat berharap tradisi dan pengetahuan tentang pusaka tidak terputus oleh perubahan zaman.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi, warisan budaya dinilai tetap memiliki ruang untuk dikenali, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

"Warisan ini akan terus kita jaga bersama. Harapannya, masyarakat luas bisa semakin sadar dan mencintai adat serta budaya sendiri. Sebab, bagaimanapun juga, semua produk kebudayaan ini adalah cerminan luhur kita dalam berbangsa dan bernegara," tandasnya.(saf/ds) 

Editor : Yudha Satria Aditama
#jamasan pusaka #Tuban #sejarah #budaya #Semanding