RADARTUBAN – Menjelang libur panjang, nilai tukar rupiah kembali kehilangan tenaga.
Pada penutupan perdagangan Jumat (13/2), rupiah melemah tipis namun konsisten di tengah sentimen global yang belum bersahabat.
Mengacu data Bloomberg dilansir dari IDXChannel, rupiah ditutup turun 8 poin atau 0,05 persen ke level Rp 16.836 per dolar AS.
Pelemahan ini mencerminkan sikap pasar yang masih berhati-hati, terutama jelang rilis data ekonomi penting Amerika Serikat.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 16.483 per Dolar AS, Tekanan Mata Uang Asia Tenggara Masih Terasa
Suku Bunga AS Masih Jadi Bayang-Bayang
Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah bersumber dari ketidakpastian arah kebijakan suku bunga AS.
Data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam masih cukup tangguh.
Dolar AS pun bangkit dari titik terendah mingguan setelah rilis data penggajian non-pertanian pada Rabu.
“Kekuatan pasar tenaga kerja dan inflasi adalah dua pertimbangan terbesar Federal Reserve untuk suku bunga,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pasar masih harus bersabar menunggu sinyal jelas dari bank sentral AS terkait waktu dan besaran pemangkasan suku bunga.
Inflasi AS Jadi Penentu Arah Pasar
Fokus pelaku pasar kini sepenuhnya tertuju pada data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk Januari yang dirilis Jumat waktu setempat.
Data ini dipandang krusial untuk membaca kesehatan ekonomi terbesar dunia itu.
Pasar secara umum memperkirakan inflasi utama dan inti akan melandai. Namun, pengalaman empat tahun terakhir membuat investor tidak sepenuhnya tenang—angka inflasi Januari kerap mengejutkan dengan hasil lebih tinggi dari perkiraan.
Kondisi ini membuat dolar AS tetap bertahan kuat, sekaligus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Geopolitik Mereda, Tapi Belum Cukup
Dari sisi geopolitik, tensi di Timur Tengah relatif mereda setelah Presiden AS, Donald Trump menyatakan negosiasi terkait potensi kesepakatan nuklir dengan Iran bisa berlangsung hingga satu bulan.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Melemah, Ini 4 Negara yang Masih Ramah Kantong untuk Liburan
Prospek perundingan yang lebih panjang ini meredam kekhawatiran gangguan pasokan energi dalam waktu dekat, sekaligus menurunkan premi risiko geopolitik yang sebelumnya menguat.
Namun, ketenangan tersebut belum cukup kuat menopang mata uang emerging market.
Eropa Memanas, Risiko Global Kembali Naik
Sementara itu, dari Eropa, situasi kembali memanas. Serangan pesawat tak berawak Ukraina dilaporkan menyebabkan kebakaran di kilang minyak milik Lukoil dekat Ukhta, Republik Komi, Rusia barat laut.
Peristiwa ini kembali mengingatkan pasar bahwa risiko geopolitik global belum sepenuhnya sirna—dan setiap eskalasi berpotensi memicu penguatan dolar AS sebagai aset aman.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Indonesia Ramai Dibanjiri Wisatawan karena Belanja Jadi Lebih Murah
Fundamental Domestik Masih Kuat
Dari dalam negeri, prospek ekonomi Indonesia sejatinya masih relatif solid. Pertumbuhan ekonomi 2026 diproyeksikan berada di kisaran 5 persen, di tengah perlambatan ekonomi Asia dan global.
Meski demikian, sentimen positif ini belum cukup kuat untuk mengangkat rupiah dalam jangka pendek. Kekhawatiran atas keberlanjutan konsumsi swasta dan efektivitas realisasi investasi masih membayangi.
Dalam jangka menengah, Indonesia dinilai memiliki fundamental kuat, termasuk potensi besar dalam indeks peluang ekspor lintas negara.
Dengan mempertimbangkan kapasitas manufaktur, tenaga kerja, biaya produksi, hingga energi, Indonesia menempati peringkat lima dunia, tepat di bawah Vietnam, sementara posisi teratas ditempati China.
Pekan Depan Masih Fluktuatif
Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, pergerakan rupiah ke depan diperkirakan masih akan berfluktuasi.
Berdasarkan analisis yang ada, untuk perdagangan pekan depan rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp 16.830–Rp 16.860 per dolar AS, dengan kecenderungan masih berada di bawah tekanan.
Menjelang libur panjang, pasar memilih bertahan di posisi aman—dan rupiah pun harus kembali menunggu momentum global yang lebih bersahabat untuk bangkit. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni