RADARTUBAN - Siapa, sih, yang tidak tahu mengenai kegiatan mendaki gunung? Salah satu bentuk olahraga ini sangat populer di kalangan remaja hingga dewasa.
Postingan maupun akun pendakian menyebar luas di sosial media.
Contohnya: @lawumontain, @mountnesia, @mt.kerinci, dan lain sebagainya.
Selain bisa berswafoto di alam bebas yang hijau dan sejuk, ternyata mendaki gunung bisa menurunkan stress, loh.
Dari hasil survei Alvara Research Center, sebanyak 28,3% generasi Z mengaku cemas. Sebanyak 23,3% generasi yang lahir antara tahun 1997-2012 tersebut, merasa cemas dan 5% lainnya sangat cemas.
Sedangkan generasi milenial yang lahir antara tahun 1981-1996, persentase responden yang cemas sebesar 23,5% dan 4,6% sangat semas.
Adapun generasi X yang lahir antara tahun 1965-1980, hanya 21,3% yang cemas dan 2,8% sangat cemas.
Mendaki gunung bisa menjadi salah satu solusi mengurangi stress karena pemandangan yang disuguhkan.
Terlebih melihat alam luas yang hijau dapat membantu tubuh lebih rileks, dan pikiran jauh lebih segar.
Selain itu, warna hijau yang dimiliki daun mempunyai panjang gelombang yang lebih pendek dari pada warna merah, sehingga mata lebih mudah untuk fokus.
Hal tersebut bisa mengurangi kelelahan mata dan meningkatkan penglihatan.
Penelitian di Jepang menunjukkan bahwa melihat warna hijau selama 20 menit dapat meningkatkan fokus dan konsentrasi.
Menghirup oksigen yang bersih dari alam luas secara perlahan dan dinikmati juga mampu mengurangi beban pikiran.
Selain manfaat di atas, berikut manfaat mendaki gunung bagi kesehatan mental dan tubuh:
1. Membuat Perasaan Lebih Bahagia
Berjalan dalam jangka waktu yang cukup lama dapat meningkatkan kebahagiaan dibandingkan dengan berlari di treadmil. Meski melelahkan, perjalanan mendaki gunung mempunyai efek merilekskan tubuh dan pikiran, juga membuat perasaan lebih tenang.
2. Meningkatkan Daya Ingat
Jalan terjal, curam dan naik-turun saat mendaki mampu mendorong aliran darah menuju otak, serta membawa oksigen dan nutrisi yang diperlukan. Sirkulasi darah yang meningkat menyebabkan peningkatan koneksi antara sel-sel saraf di area otak yang mengendalikan memori dan fungsi kognitif.
3. Mengatasi Insomnia
Insomnia atau susah tidur sering kali menyerang kebanyakan orang. Aktivitas mendaki yang mengurangi stress, meredakan pikiran dan menstabilkan suasana hati membuat tidur lebih nyenyak. Selain itu, paparan sinar alami juga berpengaruh para perbaikan pola tidur.
4. Membangun Aktivitas Sosial dan Relasi
Biasanya mendaki dilakukan secara berkelompok. Ada sebuah kalimat yang sering dilontarkan para pendaki, kira-kira seperti ini: Yang terpenting dari mendaki adalah berangkat dan pulang dengan selamat dan formasi lengkap. Menuju puncak adalah bonus, bukan tujuan utama.
Kalimat tersebut menggambarkan kesetiaan para pendaki kepada teman kelompoknya.
Jika salah satu sakit, atau ada kendala, maka yang lainnya pun akan membantu tanpa mementingkan diri sendiri dengan terus mendaki sampai puncak.
Meski berangkat sendiri pun, saat di perjalanan mendaki, pasti akan bertemu teman sependakian yang akan meningkatkan aktivitas sosial juga menambah relasi.
5. Menyehatkan Jantung dan Paru-Paru
Saat mendaki, jantung dan paru-paru akan bekerja lebih keras dari hari biasanya. Hal ini sangat berpengaruh pada peningkatan kesehatan jantung dan paru-paru.
6. Memperkuat Otot Kaki
Mendaki yang membutuhkan waktu berjam-jam dengan berjalan kaki tentunya dapat memperkuat otot kaki. Tentunya sebelum mendaki, perlu rutin olahraga ringan agar tidak terjadi cedera.
7. Tulang Jadi Lebih Padat
Mendaki gunung merupakan aktivitas penggabungan antara berjalan kaki, berjemur di bawah terik mentari dan menaiki tangga yang mampu menjadikan tulang lebih padat.
Cara tersebut efektif memperkuat tulang dan mencegah masalah kesehatan tulang.
8. Menurunkan Berat Badan
Mendaki gunung mampu membakar kalori lebih banyak dari biasanya. Pembakaran kalori tergantung pada faktor berat badan, jenis kelamin, dan intensitas gerakan.
9. Membentuk Keseimbangan
Mendaki gunung bermanfaat memperkuat otot-otot yang berkontribusi pada keseimbangan tubuh dan meningkatkan proprioception, yaitu kesadaran mental terhadap posisi dan gerakan tubuh pada lingkungan sekitar.
Saat mendaki, otak akan terus memproses setiap rintangan seperti batu dan akar, kemudian menentukan cara untuk mengatasinya.
Apakah tertarik melakukan pendakian setelah mengetahui manfaatnya? Jika iya, silakan share artikel ini agar lebih bermanfaat untuk kesehatan mental dan tubuh banyak orang. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama