Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ranking 1 Tapi Nggak Bisa Kerja Sama: Pendidikan Kita Salah Fokus?

M. Afiqul Adib • Rabu, 27 Agustus 2025 | 19:05 WIB
Pendidikan di Indonesia masih menekankan ranking dan nilai rapor.
Pendidikan di Indonesia masih menekankan ranking dan nilai rapor.

RADARTUBAN - Di banyak sekolah, ranking 1 masih dianggap puncak pencapaian.

Anak yang duduk di urutan teratas nilai rapor sering dipuji, dijadikan contoh, bahkan kadang diperlakukan seperti selebriti lokal.

Tapi pernah nggak sih kita bertanya: ranking 1 itu benar-benar jaminan sukses? Karena faktanya, ada banyak anak yang ranking 1 tapi nggak bisa kerja sama.

Nggak bisa komunikasi. Nggak bisa beradaptasi. Dan itu bikin kita bertanya ulang: apakah pendidikan kita salah fokus?

Sistem pendidikan kita masih sangat menekankan capaian akademik. Nilai matematika, IPA, dan bahasa jadi tolok ukur utama.

Tapi kemampuan sosial, kerja tim, dan komunikasi sering kali dianggap pelengkap.

Padahal, di dunia nyata, kemampuan kerja sama justru jadi kunci bertahan.

Dunia kerja tidak menanyakan berapa nilai fisika kamu, tapi seberapa baik kamu bisa berkoordinasi dengan tim, menyelesaikan konflik, dan berkontribusi dalam proyek bersama.

Ranking 1 yang tidak bisa kerja sama adalah cerminan dari sistem yang terlalu individualistik. Anak diajarkan untuk bersaing, bukan berkolaborasi.

Ujian dikerjakan sendiri, tugas dinilai per kepala, dan keberhasilan diukur dari seberapa tinggi kamu dibandingkan orang lain.

Akibatnya, banyak anak yang jago ngerjain soal, tapi bingung saat harus kerja kelompok.

Mereka terbiasa jadi “yang paling benar,” bukan “yang bisa mendengarkan.”

Padahal, kerja sama bukan skill tambahan. Ia adalah fondasi hidup sosial.

Di kantor, di komunitas, bahkan di rumah tangga, kemampuan untuk berkomunikasi dan berkompromi jauh lebih penting daripada hafalan rumus.

Tapi sayangnya, pendidikan kita belum sepenuhnya memberi ruang untuk itu. Pelajaran tentang empati, toleransi, dan dinamika kelompok masih minim. Yang ada justru kompetisi terus-menerus.

Ironisnya, anak yang tidak ranking tapi aktif di organisasi, bisa kerja tim, dan punya empati tinggi sering kali dianggap “biasa saja.”

Padahal, mereka justru punya bekal yang lebih relevan untuk menghadapi dunia yang kompleks.

Dunia yang tidak bisa diselesaikan dengan satu jawaban benar, tapi butuh banyak kepala dan hati yang bekerja bersama.

Jadi, apakah pendidikan kita salah fokus? Mungkin belum sepenuhnya salah, tapi jelas belum cukup tepat.

Kita butuh sistem yang tidak hanya menghargai ranking, tapi juga menghargai proses.

Yang tidak hanya menilai hasil ujian, tapi juga kemampuan berinteraksi.

Karena anak pintar yang tidak bisa kerja sama bukan gagal secara akademik, tapi gagal memahami bahwa hidup ini bukan soal menang sendiri.

Terakhir, mari kita ubah cara kita memuji. Jangan hanya bilang “kamu ranking 1,” tapi juga “kamu bisa kerja sama dengan baik.”

Karena dunia tidak butuh orang paling pintar, tapi orang yang bisa bekerja bersama dengan pintar. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#prestasi #komunikasi #juara #sekolah #simbol #Ranking 1