RADARTUBAN – Kebiasaan scrolling media sosial seperti TikTok dan Instagram tanpa henti kini tak sekadar berdampak pada waktu yang terbuang, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan otak.
Fenomena ini kerap disebut dengan istilah brain rot atau “otak membusuk”, sebuah kondisi yang belakangan ramai dibahas di media sosial.
Pakar saraf, dr. Lilir Amalini, menjelaskan bahwa brain rot bukan sekadar istilah viral, melainkan kondisi nyata yang bisa memengaruhi fungsi otak seseorang. Kondisi ini ditandai dengan mudah bosan, sulit fokus, serta menurunnya motivasi untuk melakukan aktivitas produktif.
Menurut dr. Lilir, paparan konten video pendek yang serba cepat dan menghibur memicu lonjakan dopamin secara instan.
Baca Juga: Waspadai Brain Rot! Konten Hiburan Berlebihan di TikTok dan YouTube Bisa Turunkan Fungsi Otak Anak
Dopamin merupakan zat kimia di otak yang berperan dalam menimbulkan rasa senang dan motivasi.
“Ketika otak terus-menerus mendapat stimulasi dopamin tinggi dari konten singkat, lama-kelamaan responsnya menjadi menurun. Akibatnya, seseorang perlu scrolling lebih lama untuk mendapatkan kepuasan yang sama,” jelasnya.
Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat berdampak pada kemampuan konsentrasi dan kestabilan emosi. Seseorang menjadi lebih mudah gelisah, sulit fokus, serta mengalami perubahan emosi meski dipicu masalah sepele.
Tak hanya itu, semangat untuk melakukan kegiatan produktif seperti membaca, belajar, atau berolahraga juga cenderung menurun.
Aktivitas yang membutuhkan usaha dan proses terasa lebih berat dibandingkan menikmati hiburan instan dari gawai.
Meski demikian, dr. Lilir menegaskan bahwa brain rot masih dapat diperbaiki.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain mengurangi waktu screen time, membiasakan fokus pada satu aktivitas dalam satu waktu, rutin bergerak atau berolahraga, serta menjaga kualitas tidur.
“Intinya, beri otak kesempatan untuk beristirahat dan ‘reset’ agar tidak terus-menerus bergantung pada stimulasi instan,” pungkasnya.
Dengan kesadaran dan pengelolaan penggunaan media sosial yang lebih sehat, risiko brain rot dapat diminimalkan, sehingga fungsi otak tetap optimal dalam menunjang aktivitas sehari-hari. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama