Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Lubang Hitam Besar Terdeteksi di Permukaan Matahari, Begini Pernyataan NASA

Bihan Mokodompit • Jumat, 3 Januari 2025 | 18:10 WIB
Kondisi matahari yang ditemukan bintik hitam raksasa.
Kondisi matahari yang ditemukan bintik hitam raksasa.

RADARTUBAN - Para ilmuwan baru-baru ini menemukan bintik besar di permukaan matahari. Bintik matahari, atau sunspot, adalah area gelap yang terbentuk akibat siklus matahari.

Fenomena ini terjadi karena gelombang radiasi elektromagnetik menembus medan magnet matahari, menciptakan bercak yang lebih dingin dibandingkan sekitarnya. Ketika diamati manusia, bintik ini tampak berwarna hitam.

Dilaporkan oleh NASA pada Kamis (02/01/2024), bintik matahari tersebut ditemukan oleh Solar Dynamics Observatory (SDO) NASA dan direkam antara 2 hingga 4 Desember 2023. Ukurannya yang besar menyerupai lubang hitam di permukaan bintang tata surya ini.

 

Bintik matahari terbentuk akibat medan magnet matahari yang kuat. Matahari memiliki plasma, yaitu gas bermuatan listrik, yang memengaruhi garis medan magnet. Plasma ini menyebabkan garis medan magnet saling terpelintir, berputar, dan kusut, sehingga panas tidak dapat mengalir ke permukaan. Akibatnya, terbentuklah area gelap yang suhunya lebih rendah.

Jumlah bintik matahari dapat bervariasi selama siklus matahari. Pada akhir 2019, menjelang dimulainya Siklus Matahari 25, matahari tidak memiliki bintik selama 40 hari berturut-turut.

Ketika medan magnet mulai melemah, jumlah bintik meningkat hingga mencapai puncaknya pada periode solar maksimum. Setelah itu, aktivitas matahari menurun, dan siklus kembali dimulai.

 

Menurut laporan Pusat Cuaca Antariksa Amerika Serikat, terakhir kali jumlah bintik matahari sebanyak ini terjadi pada September 2001, yang merupakan puncak Siklus Matahari 23 dengan rata-rata 238,2 bintik.

Selama fase solar maksimum, jumlah bintik dapat mencapai puncak bulanan yang signifikan. Misalnya, pada Juli 2000, terdapat 244,3 bintik pada Siklus Matahari 23, sementara pada Siklus Matahari 22, puncaknya mencapai 284,5 bintik pada Juni 1989.

 

Bintik matahari juga terkait dengan badai geomagnetik yang dapat memengaruhi magnetosfer bumi. Pada 10 Mei 2024, badai geomagnetik memicu aurora di hampir seluruh dunia, fenomena yang belum pernah terlihat sejak 31 Oktober 2000. Beberapa hari setelahnya, matahari menghasilkan solar flare berkekuatan X8,7, ledakan terbesar sejak 2017.

Aktivitas ini diperkirakan akan terus meningkat dalam 12 bulan ke depan. Meski badai geomagnetik dapat memengaruhi teknologi di bumi, seperti komunikasi satelit, fenomena ini umumnya tidak menimbulkan ancaman serius bagi manusia.

 

Bintik matahari, yang memiliki medan magnet hingga 2.500 kali lebih kuat daripada bumi, menjadi area penting untuk penelitian ilmiah.

NASA dan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menggunakan data dari bintik matahari untuk memantau dan memprediksi perkembangan siklus matahari. Informasi ini penting untuk memahami aktivitas bintang tata surya kita.

 


Meningkatnya jumlah bintik matahari bukan hanya indikator solar maksimum, tetapi juga peluang bagi ilmuwan untuk memperdalam penelitian tentang matahari. Dengan teknologi modern seperti SDO, kita dapat terus mengawasi dan memprediksi aktivitas matahari, memastikan dampaknya pada bumi tetap terkendali. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#matahari #bintik hitam #nasa