RADARTUBAN - Thailand menjadi salah satu negara yang menunjukkan minat untuk masuk ke kalender ajang balap Formula 1.
Pada tahun lalu, perdana menteri Thailand saat itu, Srettha Thavisin, menghadiri Grand Prix Emilia Romagna untuk berdiskusi dengan Stefano Domenicali mengenai kemungkinan membawa Formula 1 ke Negeri Gajah Putih tersebut.
Proses negosiasi terus berlanjut hingga pemerintahan baru Thailand. Pasalnya Selasa (18/3), CEO F1 kembali bertemu dengan penerus Thavisin, Paetongtarn Shinawatra untuk melanjutkan pembicaraan.
Seusai balap pembuka Grand Prix Australia Minggu lalu, Domenicali langsung terbang ke Bangkok sebelum seri balapan di Cina. Dia tertarik dengan konsep balapan di jalanan Ibu kota Thailand tersebut.
"Saya sangat senang bertemu dengan Paetongtarn Shinawatra, perdana menteri Thailand, dan timnya hari ini untuk mendiskusikan rencana mereka yang mengesankan untuk menjadi tuan rumah balapan di Bangkok," kata Domenicali dikutip dari Motorsport (21/3).
Ketertarikan Thailand untuk memboyong ajang balap Formula 1 bukan sebuah hal yang mengagetkan. Pasalnya salah satu pembalap Formula 1, Alex Albon berasal dari Thailand yang menjadikan negara ini memiliki pangsa pasar yang layak untuk diperhitungkan.
Pekan lalu, diumumkan bahwa Domenicali akan tetap menjabat sebagai CEO F1 setidaknya hingga lima tahun ke depan. Dalam periode kepemimpinannya tersebut, Domenicali terus berupaya untuk memperluas jangkauan Formula 1 ke pasar-pasar baru.
Di sela-sela Grand Prix Australia, Domenicali mengatakan bahwa ekspansi ke lokasi baru telah menjadi bagian dari strategi F1 beberapa tahun terakhir. Menurutnya banyak negara di dunia yang ingin menjadi tuan rumah ajang balap jet darat ini.
"Saya pikir hal baik yang dapat kami lakukan dalam beberapa tahun terakhir adalah fokus pada tempat-tempat yang kami yakini mewakili masa depan Formula 1," terangnya.
Selain Thailand, Rwanda juga berminat menjadi tuan rumah Formula 1. Negara yang terletak di Afrika tersebut telah menyatakan ambisinya untuk membawa F1 kembali ke Benua Hitam setelah absen selama bertahun-tahun.
Namun ambisi ini mendapatkan banyak tantangan, terutama adanya penolakan dari perwakilan Republik Demokratik Kongo di tengah konflik yang sedang berlangsung di kawasan tersebut.
Sementara itu di Amerika Selatan, Argentina disebut sebagai salah satu kandidat potensial untuk masuk kembali ke kalender F1.
Argentina terakhir kali menjadi tuan rumah balapan Formula 1 pada tahun 1998 silam, dan kini ambisi untuk menghidupkan kembali event tersebut terbuka lebar berkat F1 yang terus berekspansi ke pasar baru. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni