RADARTUBAN – Mata uang Amerika Serikat tengah menghadapi tekanan hebat di pasar keuangan internasional.
Kondisi tersebut terlihat jelas dari anjloknya indeks dolar AS (DXY), yang merupakan parameter kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama lainnya.
Data Refinitiv menunjukkan bahwa pada penutupan pasar Selasa (27/1), DXY merosot sebesar 0,85% menuju angka 96,217.
Angka penurunan harian tersebut menjadi yang paling signifikan sejak April 2025, sekaligus menempatkan dolar pada titik terlemahnya dalam hampir empat tahun terakhir, tepatnya sejak Februari 2022.
Pernyataan Trump Picu Aksi Jual Investor
Kondisi dolar semakin merosot setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang diartikan oleh pelaku pasar sebagai indikasi bahwa pemerintah tidak mempermasalahkan penurunan nilai mata uangnya.
Sikap tersebut memicu keyakinan investor bahwa ruang koreksi dolar masih terbuka lebar, sehingga aksi jual di pasar pun meningkat tajam.
Pelemahan Sudah Terjadi Sejak Sepekan Terakhir
Sebenarnya, tren penurunan dolar bukanlah fenomena mendadak, melainkan sudah terlihat sejak satu minggu sebelumnya.
Dimulai pada Selasa (20/1), indeks tersebut terpangkas 0,76% ke angka 98,641 dan terus menunjukkan tren negatif pada hari-hari berikutnya, termasuk penurunan 0,77% pada Jumat (23/1).
Puncak pelemahan terjadi pada Selasa kemarin, mengindikasikan bahwa tekanan terhadap dolar merupakan akumulasi berbagai sentimen negatif, mulai dari isu geopolitik hingga kebijakan Trump.
Wacana Akuisisi Greenland Memicu Ketegangan NATO
Salah satu pemicu utama melemahnya dolar adalah mencuatnya kembali keinginan Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland dari Denmark.
Wacana ini memicu ketegangan diplomatik dengan negara-negara Eropa. Mengingat Denmark merupakan anggota NATO, rencana tersebut dinilai berisiko memicu konflik dengan negara sekutu lainnya.
Ancaman Tarif AS Ganggu Stabilitas Global
Situasi semakin memanas setelah Trump mengancam akan mengenakan tarif kepada negara-negara yang menghalangi rencananya.
Pasar menilai ancaman tersebut sebagai risiko kebijakan besar karena berpotensi mengganggu stabilitas investasi dan perdagangan global.
Dalam kondisi ini, dolar justru kehilangan statusnya sebagai aset aman karena sumber ketidakpastian berasal dari kebijakan Amerika Serikat sendiri.
Muncul Narasi “Sell America” di Pasar Global
Menyusul meningkatnya risiko kebijakan, muncul narasi sell America di kalangan investor global.
Banyak pelaku pasar mulai mengurangi kepemilikan aset-aset AS, baik dolar, saham, maupun obligasi pemerintah.
Arus modal keluar tersebut menyebabkan konversi mata uang besar-besaran, menekan permintaan terhadap dolar dan mempercepat pelemahan nilai tukarnya.
Penguatan Yen Tambah Tekanan pada DXY
Faktor teknis lain yang memperburuk kondisi adalah penguatan yen Jepang.
Yen memiliki bobot besar dalam perhitungan indeks dolar, sehingga pergerakan USD/JPY sangat memengaruhi DXY.
Spekulasi mengenai upaya menghentikan depresiasi yen membuat pelaku pasar menutup posisi beli dolar, yang justru memperkuat yen dan menekan indeks dolar lebih dalam.
Komentar Trump Dinilai Ambigu oleh Pasar
Faktor terakhir yang memperparah kegelisahan pasar datang dari komentar Trump sendiri.
Saat ditanya apakah pelemahan dolar sudah terlalu jauh, Trump menyebut nilai mata uang AS masih “sangat baik”.
Pernyataan ini justru ditafsirkan sebagai minimnya niat pemerintah untuk menstabilkan dolar.
Ketidakjelasan sikap tersebut mendorong investor bersikap defensif, meskipun Trump kemudian menambahkan bahwa ia tidak menginginkan dolar terus melemah dan menyerahkan pergerakannya pada mekanisme pasar. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni