RADARTUBAN - Banyak pecinta sepak bola penasaran mengapa nama orang Kroasia berakhiran ic begitu sering ditemukan pada para pemain yang tampil di kompetisi Eropa maupun turnamen internasional.
Nama-nama seperti Luka Modric, Mateo Kovacic, Mario Mandzukic, hingga Ivan Perisic menjadi contoh yang paling mudah dikenali oleh penggemar sepak bola.
Fenomena tersebut ternyata bukan sekadar kebetulan.
Di balik penggunaan akhiran tersebut, terdapat sejarah panjang dan tradisi penamaan yang sudah diwariskan selama berabad-abad di Kroasia serta sejumlah negara di kawasan Balkan.
Baca Juga: Sang Penyihir Kecil Gantung Sepatu, Legenda Arsenal dan Timnas Spanyol Santi Cazorla Resmi Pensiun
Arti Akhiran Ic dalam Tradisi Penamaan Kroasia
Banyak orang mengira akhiran "ic" hanya menjadi ciri khas nama pesepak bola.
Padahal, arti akhiran ic berasal dari tradisi bahasa Slavia Selatan yang memiliki makna sebagai penanda garis keturunan.
Dalam penulisan aslinya, akhiran tersebut menggunakan huruf "ić" yang dibaca seperti "ich".
Secara historis, arti akhiran ic merujuk pada makna "anak dari" atau "keturunan dari" seseorang.
Konsep tersebut mirip dengan penggunaan akhiran "-son" dalam bahasa Inggris seperti Johnson yang berarti anak John.
Tradisi serupa juga dapat ditemukan pada penggunaan "Mac" di Skotlandia maupun "bin" dalam budaya Arab.
Karena itulah, nama orang Kroasia berakhiran ic sebenarnya memiliki akar sejarah yang sangat kuat dalam budaya masyarakat setempat.
Mengapa Banyak Nama Keluarga Berakhiran Ic?
Tradisi penggunaan nama keluarga diwariskan secara turun-temurun di Kroasia.
Akibatnya, banyak keluarga tetap mempertahankan nama belakang yang diwarisi dari leluhurnya.
Baca Juga: Juventus Tolak Tawaran Bayern Munich, Bremer Baru Dilepas Jika Mahar Rp 760 Miliar Terpenuhi
Sebagai contoh, nama Kovačić berasal dari kata "Kovač" yang berarti pandai besi.
Artinya, nama tersebut dapat dimaknai sebagai keturunan seorang pandai besi.
Sementara itu, Perišić diyakini berasal dari nama Pero atau Petar. Maknanya adalah keturunan dari seseorang yang memiliki nama tersebut.
Begitu pula dengan Mandžukić yang berasal dari nama Mandžo. Tradisi inilah yang membuat nama orang Kroasia berakhiran ic terus bertahan hingga generasi modern.
Bahkan, sebagian besar masyarakat Kroasia masih menggunakan pola penamaan tersebut sampai sekarang.
Luka Modric Menjadi Contoh Paling Populer
Bagi pecinta sepak bola, nama Luka Modric tentu sudah tidak asing lagi.
Gelandang yang pernah meraih Ballon d'Or tersebut menjadi salah satu tokoh paling terkenal yang menggunakan akhiran "ić".
Nama belakang Luka Modric dalam ejaan asli ditulis Modrić. Huruf "ć" memiliki pelafalan berbeda dibanding huruf "c" biasa.
Dalam bahasa Kroasia, huruf tersebut diucapkan menyerupai bunyi "ch". Karena itu, nama Luka Modric sebenarnya lebih tepat dilafalkan sebagai "Modrich" dibanding "Modrik".
Hal serupa juga berlaku pada Perišić yang lebih mendekati pelafalan "Perishich".
Tidak Hanya Ditemukan di Kroasian
Meski identik dengan Kroasia, penggunaan akhiran "ić" tidak hanya ditemukan di negara tersebut. Tradisi serupa juga berkembang di Serbia, Bosnia dan Herzegovina, hingga Montenegro.
Negara-negara tersebut memiliki kedekatan sejarah dan bahasa karena sama-sama berasal dari kawasan bekas Yugoslavia.
Kesamaan budaya itu membuat arti akhiran ic tetap dipertahankan dalam sistem penamaan keluarga. Tidak heran apabila banyak atlet dari kawasan Balkan memiliki nama belakang yang terdengar mirip.
Menjadi Identitas Budaya yang Tetap Bertahan
Di era modern, nama orang Kroasia berakhiran ic bukan lagi sekadar penanda identitas keluarga.
Akhiran tersebut juga menjadi simbol warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat.
Meski zaman terus berubah, tradisi penamaan itu tetap dipertahankan sebagai bagian dari sejarah keluarga.
Keberadaan tokoh dunia seperti Luka Modric juga membuat masyarakat internasional semakin mengenal budaya penamaan khas Kroasia.
Dengan memahami arti akhiran ic, publik kini dapat mengetahui bahwa akhiran tersebut bukan sekadar ciri khas nama, melainkan simbol hubungan keluarga dan sejarah panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama