Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Harga Minyak Kembali Tertekan, Langkah Arab Saudi dan OPEC+ Picu Kekhawatiran Pasar Energi Global

Tulus Widodo • Selasa, 7 Juli 2026 | 13:31 WIB
Ilutrasi minyak dunia. (Pinterest)
Ilutrasi minyak dunia. (Pinterest)

RADARTUBAN - Harga minyak dunia kembali melemah dan kini nyaris kembali ke level sebelum pecahnya perang Iran.

Pergerakan ini menjadi sinyal bahwa pasar energi global mulai memasuki fase baru setelah sempat diguncang konflik geopolitik yang memicu lonjakan harga hingga menyentuh level tertinggi dalam empat tahun.

Dilansir dari IDX Channel, pada penutupan perdagangan Senin (6/7), kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 0,2 persen ke posisi USD 71,99 per barel. 

Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga terkoreksi 0,2 persen menjadi USD 68,55 per barel.

Baca Juga: Kabar Baik! Pemerintah Optimistis Harga Pertamax Segera Turun Seiring Melemahnya Harga Minyak Dunia

Arab Saudi dan OPEC+ Jadi Pemicu Tekanan Harga

Pelemahan harga dipicu oleh beberapa faktor sekaligus. Arab Saudi memangkas Official Selling Price (OSP) minyak mentahnya, sementara OPEC+ menyepakati kenaikan target produksi mulai Agustus.

Di saat yang sama, arus ekspor minyak melalui Selat Hormuz mulai kembali normal setelah sebelumnya terganggu akibat konflik di kawasan Timur Tengah. 

Kombinasi tiga faktor tersebut langsung mengubah sentimen pasar dari kekhawatiran kekurangan pasokan menjadi antisipasi melimpahnya suplai minyak global.

Sepanjang pekan lalu, harga Brent maupun WTI bergerak relatif datar. Namun dalam satu bulan terakhir, keduanya terus mengalami penurunan hingga kembali ke level yang terakhir terlihat pada akhir Februari.

 

Dampak Perang Mulai Memudar, Tantangan Baru Muncul

Menurut International Energy Agency (IEA), perang yang berlangsung selama empat bulan sebelumnya memicu salah satu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern. 

Kini, ketika distribusi mulai pulih dan produksi meningkat, pasar justru dihadapkan pada tantangan berbeda, yakni potensi kelebihan pasokan.

Bagi negara-negara pengimpor energi, penurunan harga minyak dapat menjadi kabar baik karena berpotensi menekan biaya impor dan inflasi. 

Sebaliknya, bagi negara produsen minyak, tren ini bisa mengurangi penerimaan dari sektor energi apabila berlangsung dalam waktu lama.

Pasar kini menunggu langkah berikutnya dari OPEC+ serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah. 

Sebab, di tengah pulihnya pasokan global, satu keputusan politik atau eskalasi konflik baru saja sudah cukup untuk kembali mengubah arah harga minyak dunia dalam hitungan hari. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#harga minyak dunia #iran #geopolitik #OPEC+ #konflik