RADARTUBAN - Kota Granada di Andalusia menyimpan jejak sejarah panjang sebagai benteng pertahanan Islam di Spanyol yang memancarkan pesona arsitektur megah serta warisan budaya luar biasa.
Melalui perjalanan edukatif yang mudah dipahami, wisatawan akan diajak menjelajahi keindahan sudut kota Granada sekaligus menelusuri peninggalan peradaban islam yang pernah berjaya di benua Eropa.
Granada tidak hanya dikenal karena pemandangan alamnya yang memukau, tetapi juga karena nilai sejarahnya yang sangat kuat.
Dikutip dari kanal YouTube milik Content Creator asal Indonesia, Aziza Francienne, yang membagikan pengalamannya mengeksplorasi berbagai kawasan bersejarah yang menjadi saksi bisu kejayaan Islam di Spanyol.
Baca Juga: Jejak Kolonialisme dan Sejarah Panjang Jawa Menjadi Detak Jantung Nusantara
Pasar Tradisional dan Jejak Perdagangan Dunia
Destinasi awal yang dikunjungi dalam penelusuran ini adalah Alcaiceria. Pada masa keemasannya, pasar ini merupakan salah satu jalur perdagangan terbesar yang mengantarkan Granada menjadi salah satu kota terkaya di benua Eropa.
Berbagai komoditas impor berharga dari Cina, Asia Tengah, hingga kawasan Arab berputar pesat di area ini. Dari segi arsitektur, bangunan Alcaiceria memiliki kemiripan yang sangat erat dengan pasar-pasar tradisional khas Turki maupun Maroko.
Petualangan kemudian berlanjut menuju Mirador de San Nicolas, sebuah titik pandang (viewpoint) populer untuk menikmati panorama keindahan Istana Alhambra dan lanskap kota dari ketinggian.
Tempat ini berada di kawasan Albayzin, pemukiman bersejarah yang pada masanya pernah dihuni oleh sekitar 40.000 umat Muslim serta menampung kurang lebih 30 bangunan masjid.
Di kawasan Albayzin ini juga berdiri pasar Caldereria Nueva yang menjual aneka suvenir unik.
Dahulu, tempat ini menjadi pusat denyut perekonomian kota yang diramaikan oleh para pedagang Muslim dari berbagai penjuru negara seperti Suriah, Maroko, Palestina, hingga komunitas mualaf Spanyol asli.
Saat menjelajahi area tersebut, Aziza sempat menyempatkan diri untuk menyantap makan siang di restoran Castillo de Aleppo milik warga asal Suriah yang menyajikan aneka hidangan khas Arab.
Masjid Agung Granada dan Toleransi Antarumat
Setelah menikmati santapan siang, perjalanan dilanjutkan menuju masjid terbesar di kota Granada untuk menunaikan ibadah sholat Jumat.
Masjid ini berdiri anggun dengan arsitektur menawan yang menyatu sangat harmonis dengan bangunan-bangunan di sekitarnya.
Sejarah pembangunan masjid ini terbilang sangat unik. Proyek ini berawal dari inisiasi tiga pemuda asli Spanyol yang memutuskan menjadi mualaf pada era 1970-an setelah terinspirasi dari perjalanan mereka di Eropa dan Inggris.
Melalui proses panjang dan penggalangan dana internasional, dengan Pemimpin Libya Muammar Gaddafi sebagai salah satu penyokong dana utama masjid ini akhirnya resmi rampung sekitar tahun 2000-an.
Meski sempat memicu penolakan dari warga sekitar pada awal masa pembangunannya, kini masjid yang menyajikan pemandangan indah menghadap langsung ke Istana Alhambra tersebut telah diterima dengan hangat dan hidup berdampingan secara damai bersama masyarakat non-Muslim setempat.
Kemegahan Istana Alhambra dan Pesona Wisata Kuliner
Puncak eksplorasi ditujukan ke Istana Alhambra, sebuah kompleks benteng dan istana seluas 10 hektar yang didirikan oleh Dinasti Kerajaan Nasrid.
Dalam penelusuran di area Nasrid Palaces, Aziza didampingi oleh Michael, seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan restorasi seni di Spanyol.
Kemegahan arsitektur yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Yusuf tersebut sukses memukau siapa saja yang melihatnya.
Dinding-dinding istana dihiasi oleh ukiran geometris yang sangat rumit, kaligrafi ayat-ayat suci Al-Qur'an, serta kalimat syahadat yang diukir indah tanpa melibatkan lukisan bentuk makhluk hidup.
Selain kompleks bangunan utama, terdapat pula kawasan taman Generalife (Gardens of the Seven Heavens) yang dirancang khusus menyerupai gambaran keindahan surga.
Menurut penjelasan pemandu, nama Alhambra berasal dari bahasa Arab Al-Hamra yang berarti "Sang Merah", merujuk pada warna bata dan tanah kemerahan yang membentuk dinding benteng tersebut.
Sebelum mengakhiri agenda penelusuran di Granada dan melanjutkan perjalanan menuju kota Sevilla, Aziza menutup kunjungannya dengan mencicipi pionono, yaitu kuliner penutup tradisional khas Granada berupa kue bertekstur lembut mirip custard.
Perjalanan ini memberikan gambaran nyata betapa tingginya nilai seni, kebudayaan, dan toleransi yang diwariskan oleh peradaban Islam di bumi Andalusia. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari