RADARTUBAN – Menguap merupakan refleks alami dari tubuh saat mengantuk atau kekurangan oksigen.
Namun siapa sangka jika aktivitas yang tampak sederhana ini mampu memberikan risiko yang serius.
Dalam beberapa kasus, jika menguap berlebihan dapat menyebabkan dislokasi rahang, kondisi dimana tulang rahang bawah bergeser keluar dari posisi semestinya.
Rahang yang terkilir bukanlah hal yang umum terjadi, namun bukan berarti mustahil.
Menurut penjelasan medis dari Alodokter, dislokasi rahang dapat terjadi ketika seseorang membuka mulut terlalu lebar, baik saat menguap, tertawa, atau bahkan saat makan.
Saat rahang terkilir, sendi temporomandibular (TMJ) yang menghubungkan rahang bawah dengan tulang tengkorak bisa tergeser dari tempatnya.
Gejala paling umum yang terjadi dari dislokasi rahang adalah kesulitan untuk menutup mulut kembali setelah menguap.
Hal ini bisa menimbulkan nyeri di sekitar rahang dan telinga, hingga rasa kaku di bagian wajah.
Gejala paling parah bahkan bisa merasa panik karena tidak mampu mengembalikan posisi mulut secara alami.
Kasus ini memang jarang terjadi, namun risiko lebih tinggi dapat terjadi pada orang yang memiliki kelainan sendi dan otot yang lemah di sekitar rahang, atau pernah mengalami cedera sebelumya.
Selain itu, penyebab lain juga ditemukan pada mereka yang sedang menjalani perawatan gigi dengan mulut terbuka terlalu lama.
Menurut keterangan di laman Alodokter, perawatan untuk dislokasi rahang dapat melibatkan bantuan medis untuk mengembalikan posisi sendi secara manual.
Jika tidak segera ditangani dengan tepat, kondisi ini bisa menimbulkan komplikasi jangka panjang seperti nyeri kronis, kesulitan makan, hingga gangguan bicara.
Dokter menganjurkan agar tidak membuka mulut secara berlebihan, terutama saat menguap.
Jika sudah merasa akan menguap, disarankan untuk menopang dagu menggunakan tangan sebagai penyangga agar gerakan rahang tidak melebar berlebihan.
Meskipun hal ini terlihat sederhana, dislokasi rahang bukanlah hal yang bisa disepelekan.
Maka, mulai sekarang, tanamkan kesadaran terhadap bahaya saat meguap hingga membuat kita membuka mulut terlalu lebar. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama