RADARTUBAN- Ternyata perempuan lebih sering mengalami radang sendi dibandingkan laki-laki, terutama jenis Artritis Rematoid (AR). Hormon estrogen adalah penyebab utamanya.
Hormon ini dapat mempengaruhi sistem imun, menyebabkan tubuh wanita lebih rentan terhadap peradangan pada sendi.
Dr. Andry Reza Rahmadi, SpPD, MKes, Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RS Hasan Sadikin Bandung, mengatakan bahwa sistem autoimun tubuh sangat dipengaruhi oleh hormon estrogen.
Itu sebabnya perempuan lebih sering mengalami penyakit autoimun seperti artritis reumatoid daripada laki-laki.
Dr. Andry mengatakan bahwa perempuan lebih sering mengalami Artritis Rematoid (AR) daripada laki-laki, dengan perbandingan sekitar 4 banding 1.
Jumlah kasus lupus bahkan lebih jelas: hanya satu laki-laki yang terkena, sembilan perempuan. Hal ini menunjukkan betapa besar peran hormon estrogen dalam memengaruhi risiko penyakit autoimun.
Dr. Andry, yang juga anggota Indonesian Rheumatology Associations (IRA), menjelaskan bahwa penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh salah mengenali jaringan tubuh sendiri sebagai musuh.
Akibatnya, sistem kekebalan malah menyerang tubuh, termasuk persendian, yang seharusnya melindungi tubuh dari serangan dari luar.
Tetapi dalam kasus autoimun, sistem ini malah membuat kesalahan dan menyerang jaringan tubuh sendiri.
Hal ini dapat menyebabkan peradangan di persendian, yang ditandai dengan nyeri, bengkak, kemerahan, dan sensasi panas.
Dia menyatakan bahwa peradangan pada sendi tidak hanya menyebabkan nyeri, tetapi juga dapat menyebabkan demam dan membatasi mobilitas karena banyak sel kekebalan yang terlibat dalam proses peradangan.
Peradangan kronis di beberapa sendi adalah tanda penyakit autoimun sistemik yang dikenal sebagai artritis reumatoid (AR).
Sayangnya, banyak orang masih menganggap AR sama dengan asam urat, meskipun mekanisme dan efek yang ditimbulkan keduanya berbeda.
Lebih dari 21 juta orang di seluruh dunia menderita Artritis Rematoid (AR). Di Indonesia, sekitar 360 ribu orang dari hampir 270 juta penduduk menderita penyakit ini.
Karena sifatnya sistemik, Artritis Rematoid (AR) tidak hanya menyerang sendi. Penyakit ini juga bisa memengaruhi organ dan sistem tubuh lain.
Oleh karena itu, identifikasi dini dan penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi dan menjaga kualitas hidup penderita. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni