Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Waspada Thrifting! Dokter Ungkap Baju Bekas Bisa Picu Infeksi Virus Moluskum pada Kulit

Adinda Dwi Wahyuni • Sabtu, 7 Maret 2026 | 21:05 WIB

Pengunjung mengamati barang-barang bekas impor (thrifting) yang dijual
Pengunjung mengamati barang-barang bekas impor (thrifting) yang dijual

RADARTUBAN– Tren belanja baju bekas alias thrifting memang tengah digandrungi kaula muda. Namun, di balik harganya yang miring, tersimpan risiko kesehatan kulit yang tidak bisa disepelekan.

Belakangan ramai diperbincangkan soal kemunculan benjolan serupa jerawat setelah menggunakan baju thrift yang ternyata bukan jerawat biasa, melainkan infeksi virus.

Risiko Kesehatan di Balik Tren Thrifting

Hal itu diungkapkan oleh praktisi dermatologi, dr. Clinton, dalam sebuah perbincangan edukatif di kanal YouTube Tom MC Ifle.

Dokter yang berpraktik di Erha tersebut meluruskan bahwa gangguan kulit akibat media pakaian bekas seringkali salah didiagnosis sebagai jerawat (breakout), padahal bisa jadi itu adalah Moluskum Kontagiosum.

"Itu penyebabnya virus moluska, bukan bakteri seperti jerawat pada umumnya. Medium penularannya bisa apa saja, termasuk pakaian atau handuk. Jadi, jangan langsung dipakai meski kelihatan bersih," wanti dr. Clinton.

Baca Juga: Pedagang Thrifting Siap Bayar Pajak Impor 10 Persen, Asal Pemerintah Izinkan Tetap Berjualan

Bukan Jerawat, Tapi Virus Moluska

Dokter Clinton menjelaskan bahwa Moluskum Kontagiosum ditandai dengan munculnya papul atau benjolan kecil pada kulit.

Virus ini sangat mudah menular jika sistem imun tubuh sedang turun atau terdapat luka kecil (lesi) pada kulit yang menjadi pintu masuk virus.

Masyarakat diminta untuk lebih berhati-hati dan melakukan sterilisasi ekstra pada baju-baju bekas sebelum bersentuhan langsung dengan kulit.

Proses pencucian biasa terkadang belum cukup untuk membunuh mikroorganisme yang menempel pada serat kain lama.

Mitos Sunscreen dan Kanker Kulit

Selain isu thrifting, dr. Clinton juga menepis anggapan keliru yang menyebutkan bahwa penggunaan tabir surya atau sunscreen bisa memicu kanker karena menyerap ke dalam kulit.

Menurutnya, justru paparan sinar ultraviolet (UV) tanpa perlindunganlah yang menjadi biang kerok rusaknya DNA kulit.

"Pernyataan sunscreen bikin kanker itu tidak benar. Yang terjadi adalah dosis pemakaiannya yang seringkali kurang. Aturannya harus dua jari untuk wajah, leher dua jari lagi, dan diulang setiap dua jam jika beraktivitas di bawah matahari," tegasnya.

Cantik Tak Harus Mahal, Kuncinya Proteksi Kulit

Ia menambahkan, perlindungan kulit (proteksi) adalah kunci utama kecantikan jangka panjang, bahkan lebih penting daripada tindakan medis mahal seperti laser atau peeling.

Cantik Tak Harus Mahal, Kuncinya Pola Hidup

Dalam gaya bicaranya yang lugas, dr. Clinton mematahkan stigma bahwa perawatan kulit efektif harus merogoh kocek dalam-dalam.

Baginya, klinik dan tindakan medis hanya berfungsi sebagai pendorong (booster), sementara perawatan utama ada pada kebiasaan di rumah.

"Prinsipnya sama, butuh vitamin A, B, dan C. Treatment di klinik itu nomor sekian, yang utama adalah maintenance di rumah dan pola hidup sehat," tuturnya.

Ia pun menyarankan masyarakat untuk menghindari ultra-processed food (makanan olahan), mengurangi karbohidrat berlebih, serta mengelola stres.

Sebab, stres kronis akan meningkatkan hormon kortisol yang memicu produksi minyak berlebih dan menyebabkan masalah kulit menahun. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#virus #baju bekas #Thrifting #Belanja baju bekas #kesehatan kulit #tren thrifting