RADARTUBAN – Kesehatan otak perlu mendapat perhatian yang sama pentingnya dengan organ lain, seperti jantung dan ginjal.
Sebagai pusat kendali tubuh, otak menjalankan berbagai fungsi penting, mulai dari mengatur gerakan hingga mendukung kemampuan berpikir, mengingat, dan berkonsentrasi.
Dokter spesialis bedah saraf dr. Ryan Keswani membahas cara kerja dan perawatan otak dalam diskusi edukatif di kanal YouTube KaisarTV.
Baca Juga: Jaga Fungsi Otak hingga Usia Tua, Dokter Bedah Saraf Ungkap 3 Pilar Gaya Hidup Sehat
Dalam pembahasan tersebut, dia menjelaskan sejumlah hal yang perlu dipahami masyarakat untuk menjaga fungsi kognitif, termasuk kebiasaan tidur, pola kerja, dan aktivitas fisik.
Salah satu hal yang menarik perhatian adalah tekstur otak yang sangat lunak, menyerupai tahu yang belum dimasak.
Kondisi tersebut membuat otak rentan terhadap cedera fisik sehingga membutuhkan perlindungan dari tulang tengkorak.
Selain perlindungan fisik, kesehatan otak juga dipengaruhi kebiasaan sehari-hari.
Kurang tidur, pola makan yang kurang sehat, serta penggunaan gawai secara berlebihan dapat mengganggu konsentrasi dan kualitas istirahat.
Otak Lebih Optimal saat Fokus pada Satu Pekerjaan
Dalam diskusi tersebut, dr. Ryan menjelaskan bahwa otak manusia tidak dirancang untuk mengerjakan banyak hal sekaligus secara optimal.
Ketika seseorang berpindah-pindah perhatian di antara beberapa tugas, fokus dapat terpecah sehingga pekerjaan menjadi kurang efisien.
Dia menilai, kemampuan berkonsentrasi pada satu pekerjaan dalam satu waktu dapat membantu seseorang mencapai kondisi flow state, yakni keadaan ketika seseorang dapat mencurahkan perhatian secara mendalam pada aktivitas yang sedang dikerjakan.
"Sebenarnya otak tuh enggak didesain buat multitasking, otak itu didesain untuk monotasking. Our best work itu muncul pada saat kita udah masuk flow state," ujar dr. Ryan.
Selain cara bekerja, mekanisme otak dalam menyimpan ingatan juga menjadi perhatian.
Pengalaman buruk atau situasi yang mengancam keselamatan cenderung meninggalkan kesan kuat karena membantu manusia mengenali bahaya dan menghindari ancaman serupa di kemudian hari.
Mekanisme tersebut berkaitan dengan kemampuan otak memproses pengalaman emosional dan mengingat informasi yang dianggap penting untuk keselamatan.
Meski demikian, kekuatan ingatan terhadap pengalaman buruk dapat berbeda pada setiap orang, bergantung pada situasi dan pengalaman yang dialami.
Olahraga dan Istirahat Jadi Bagian dari Perawatan Otak
Menjaga fungsi otak tidak hanya dilakukan melalui latihan berpikir, tetapi juga dengan memperhatikan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Aktivitas fisik, misalnya, dapat mendukung kesehatan otak melalui peningkatan aliran darah dan proses biologis yang berkaitan dengan fungsi kognitif.
Olahraga kardio selama sekitar 30 menit sehari dapat menjadi salah satu pilihan aktivitas rutin, dengan menyesuaikan intensitas dan kondisi kesehatan masing-masing.
Aktivitas fisik teratur juga dikaitkan dengan dukungan terhadap proses belajar dan memori melalui berbagai mekanisme di dalam tubuh.
Di sisi lain, tidur yang cukup berperan penting dalam menjaga perhatian, kemampuan belajar, dan pembentukan ingatan.
Karena itu, kebiasaan begadang sebaiknya tidak dianggap sepele, terutama jika berlangsung terus-menerus.
Pola makan dengan mengutamakan bahan pangan alami dan beragam juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan otak.
Sebaliknya, konsumsi makanan ultra-proses secara berlebihan perlu dibatasi sebagai bagian dari pola hidup sehat.
Perawatan otak pada akhirnya tidak bergantung pada satu kebiasaan saja.
Mengatur waktu istirahat, rutin bergerak, menjaga pola makan, serta membiasakan diri fokus pada satu pekerjaan dapat membantu mendukung fungsi otak dalam jangka panjang. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari