Tak Ada Dokter Lulusan Google atau ChatGPT, dr. Henry Suhendra Ingatkan Risiko Diagnosis Mandiri

Salsa Mardhotun Nafisah • Dipublikasikan Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:38 WIB
Ilustrasi Gunakan Google/AI untuk info awal, tapi selalu temui dokter untuk diagnosis tepat. (RADARTUBAN/AI)
Ilustrasi Gunakan Google/AI untuk info awal, tapi selalu temui dokter untuk diagnosis tepat. (RADARTUBAN/AI)

RADARTUBAN – Google dan kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT maupun Gemini dapat membantu masyarakat mencari informasi kesehatan.

Namun, hasil pencarian tersebut tidak bisa dijadikan satu-satunya acuan untuk menentukan penyakit atau memutuskan pengobatan.

Peringatan itu disampaikan dr. Henry Suhendra dalam podcast Kafe Berisi di kanal YouTube Rhenald.Kasali.

Dokter bedah tulang sekaligus konsultan olahraga tersebut mengingatkan bahwa informasi digital tidak selalu akurat dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung oleh tenaga medis.

“Saya bilang gini, tidak ada dokter lulusan Google University, tidak ada dokter lulusan ChatGPT, tidak ada dokter lulusan Gemini,” ujar Henry.

Baca Juga: 3 Tips Menyiapkan Ramadan Sejak Sekarang: Dari Menata Pola Tidur, Sampai Menyiapkan Pola Makan

Menurut dia, masyarakat tetap boleh mencari informasi secara mandiri untuk memahami keluhan yang dialami. Namun, informasi tersebut sebaiknya menjadi pengetahuan awal, bukan dasar untuk memastikan diagnosis tanpa konsultasi medis.

“Ya boleh-boleh aja kalau Anda mau dapat info sendiri, boleh. Kan tidak dilarang, tapi jangan hanya bergantung pada itu, pada mesin. Enggak selalu benar kok,” tegasnya.

Pola Hidup Juga Berpengaruh terhadap Kesehatan

Selain penggunaan AI, Henry membahas pentingnya menjaga kesehatan melalui perubahan gaya hidup.

Pola makan, aktivitas fisik, waktu tidur, dan pengelolaan stres menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.

Ia menceritakan pengalamannya saat masih aktif bekerja setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran. Kesibukan, kurang tidur, dan kelelahan ketika itu membuat tekanan darahnya meningkat hingga ia sempat mengonsumsi obat.

Henry mengaku kondisinya membaik setelah memperbaiki pola hidup. Meski demikian, pengalaman tersebut tidak bisa dijadikan acuan untuk semua orang.

Keputusan menggunakan, mengubah dosis, atau menghentikan obat harus didasarkan pada kondisi pasien dan pertimbangan dokter yang menangani.

Henry juga menyoroti tren olahraga, mulai dari lari dan padel hingga latihan di pusat kebugaran. Menurut dia, aktivitas fisik merupakan kebiasaan positif yang perlu dilakukan dengan persiapan sesuai kemampuan tubuh agar risiko cedera dapat dikurangi.

Latihan beban, misalnya, sebaiknya dimulai dengan intensitas yang sesuai kemampuan, kemudian ditingkatkan secara bertahap. Ia turut memperkenalkan konsep exercise snack, yakni aktivitas fisik singkat yang disisipkan di sela-sela kegiatan sehari-hari.

Baca Juga: 3 Gaya Hidup Anak Muda yang Diam-diam Merusak Kesehatan, dari Begadang hingga Pola Makan Asal

Ingatkan Pentingnya Asupan Nutrisi

Dalam perbincangan tersebut, Henry turut membahas vitamin D, vitamin K2, magnesium, zinc, dan kebutuhan protein.

Ia mencontohkan sumber protein dari makanan sehari-hari, seperti telur, ikan, dan ayam, serta mengingatkan masyarakat agar tidak berlebihan mengonsumsi makanan ultra-proses.

Henry dikenal sebagai pendiri Vitamin D Society Indonesia pada 2019. Dalam podcast itu, ia juga menyampaikan pandangannya mengenai kekurangan vitamin D dan faktor yang memengaruhi kadar vitamin tersebut di dalam tubuh.

Namun, klaim mengenai dosis optimal vitamin D maupun manfaatnya terhadap penyakit tertentu tetap perlu merujuk pada bukti ilmiah.

Kebutuhan suplemen setiap orang berbeda, sedangkan konsumsi dosis tinggi tanpa pengawasan dapat menimbulkan risiko efek samping.

Ia juga menekankan pentingnya mencukupi kebutuhan cairan, terutama bagi kelompok lanjut usia. Salah satu kebiasaan yang ia contohkan adalah membawa botol air berkapasitas satu liter agar lebih mudah mengingat untuk minum secara berkala.

Perbincangan tersebut menggarisbawahi pentingnya menyaring informasi kesehatan di tengah kemudahan akses teknologi.

Google dan AI dapat membantu masyarakat memahami informasi awal, tetapi diagnosis dan penentuan penanganan tetap memerlukan pemeriksaan serta pertimbangan tenaga medis profesional. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
AI kecerdasan buatan ChatGPT kesehatan google