Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Resensi Buku - Sebuah Refleksi Diri dalam Menghadapi Badai Kehidupan

Shafa Dina Hayuning Mentari • Minggu, 16 Februari 2025 | 19:53 WIB
Photo
Photo

RADARTUBAN - Aku Bukannya Me­nyerah, Hanya Sedang Lelah me­rupakan buku kategori self improvement karya Geul­baewoo yang di ter­jemahkan dari bahasa Korea.

Buku ini berisi kum­pulan esai tentang bagaimana cara kita memiliki hu­bungan yang baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Buku ini juga akan mengajak para pembaca untuk sejenak merenungkan kehidupan yang dipenuhi oleh ber­bagai macam problema.

Setiap esai dalam buku ini menceritakan tentang kegelisahan orang–orang yang sering kali kehila­ngan jati diri—selalu mengalami kegagalan dalam hidup, over­thinking, dan berbagai permasalahan lainnya.

Tak hanya ditulis ber­dasarkan pengalaman kehidupan penulis, buku ini juga menyajikan ber­bagai kasus yang memang terjadi hampir kepada setiap orang. Ini menunjukkan jika kita tidak sendirian saat mengalami suatu perma­salahan, melain­kan masih banyak orang yang juga merasakan hal serupa.

Geulbaewoo merangkai esai dengan berbagai pengalaman pahit kehidupannya hingga meraih banyak hal seperti yang dia dapatkan saat ini. Hal tersebut pastinya tak lepas dari kerja keras dan jatuh bangun perjalanannya.

Buku ini membantu pembaca lebih tenang ketika menghadapi ber­bagai masalah kehidupan, rasa kesen­dirian yang dihadapi, trauma, hingga perasaan kecewa. Pembaca akan didorong untuk lebih bisa mencintai dan menerima diri sendiri terlepas dari luka-luka yang belum tersembuhkan.

Terbagi dalam tiga bagian yang masih saling ber­kaitan, buku ini mence­ritakan tahap jatuh bangun seseorang dalam perjalanan hidupnya hingga mencapai ke­suksesan. Dalam bagian ini, akan ada banyak penga­laman, saran, dan harapan bagi siapapun yang sedang mengalami fase yang sama. Bagian ini seolah-olah memberikan dorongan agar tak berputus asa, sebab banyak orang yang tentunya mengalami fase yang sama.

Bagian kedua berisi nasihat tentang bagai­mana seseorang harus bersikap ketika ber­hadapan dengan orang lain, seperti keluarga, teman, bahkan hingga orang asing sekalipun. Mulai dari tentang menjaga ucapan pada orang lain dan tak membebankan kehendak kita kepada mereka untuk memenuhi keinginan diri sendiri.

Kemudian pada bagian terakhir buku ini, penulis menjelaskan bagaimana cara untuk memandang dan mencintai diri sendiri. Melalui esainya, pada tema ketiga ini penulis akan merangkul pembaca dan menemani untuk menemukan berbagai jawaban atas persoalan yang berkaitan dengan diri sendiri. Seperti bagaimana cara untuk lebih mencintai diri sendiri, mening­katkan value diri, hal-hal yang diperlukan untuk berubah menjadi lebih baik, hingga mengajarkan bagaimana menemukan cara untuk menemukan hal-hal yang disukai.

Pengalaman-pengalam penulis yang dirangkai menjadi sebuah esai singkat namun inspiratif dan penuh makna ini, akan memberikan sudut pandang tentang bagaimana perjalanan kehidupan semua orang tidak akan berjalan mulus dan penuh warna. Akan ada saat ketika merasakan keterpurukan hingga rasa ingin menyerah dengan kehidupan. Meski begitu, semua akan indah jika kita terus berusaha melakukan yang terbaik untuk keluar dari keterpurukan itu.

Esai dalam buku ini disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan tak terkesan menggurui serta rangkaian kalimat inspiratif bak teman dekat yang akan memeluk disaat badai kehidupan me­nerjang. Meski begitu, pada beberapa bagian dari buku ini akan terasa kurang relate dengan bagian-bagian lainnya. (*)

 

Judul Buku: Aku Bukannya Menyerah, Hanya Sedang Lelah
Penulis: Geulbaewoo
Penerjemah: Dewi Ayu Ambar Rani
Penerbit: Penerbit Haru
Tahun Terbit: 2021
Halaman: 248 halaman

Editor : Yudha Satria Aditama
#diri sendiri #pembaca #mengajak #lelah #hubungan baik #buku