RADARTUBAN - Di atas kertas, kerja remote terdengar seperti mimpi: bisa kerja dari mana saja, pakai piyama, sambil ngopi di teras rumah.
Tapi kenyataannya? Banyak pekerja justru merasa selalu terjaga 24 jam, seolah-olah laptop adalah perpanjangan tangan yang nggak pernah boleh mati.
Fleksibel sih, tapi kok capeknya nggak fleksibel juga?
Fleksibilitas yang Menjebak
Sistem kerja fleksibel memang menawarkan kebebasan, tapi juga membawa tantangan tersembunyi.
Tanpa batasan waktu yang jelas, hari kerja bisa molor, tugas menumpuk, dan jam istirahat jadi ilusi.
Banyak pekerja merasa bersalah kalau nggak responsif, meski sudah lewat jam kerja.
Fenomena ini disebut sebagai “work-life balance semu”—di mana batas antara kerja dan hidup pribadi makin kabur.
Gen Z dan Milenial, yang paling adaptif terhadap teknologi, justru jadi kelompok paling rentan mengalami burnout.
Burnout Digital: Ketika Produktivitas Menjadi Beban
Penelitian dari UII menunjukkan bahwa keseimbangan kehidupan kerja punya pengaruh signifikan terhadap burnout pada pekerja remote.
Tanpa ritme kerja yang sehat, stres bisa menumpuk dan berdampak pada kesehatan mental.
Bahkan, WHO sudah mengklasifikasikan burnout sebagai fenomena akibat stres kronis di tempat kerja.
Produktif Bukan Berarti Aktif Terus
Penting banget untuk punya ritme kerja yang sehat. Tau kapan harus fokus, kapan harus istirahat, dan kapan harus benar-benar lepas dari kerjaan.
Karena yang namanya produktif bukan berarti kerja terus-terusan, tapi bisa menyelesaikan pekerjaan tanpa kehilangan diri sendiri.
Beberapa negara sudah mulai sadar akan pentingnya batasan. Di Perancis, ada kebijakan Right to Disconnect yang memberi hak karyawan untuk mengabaikan komunikasi kerja di luar jam kerja.
Di Indonesia? Masih banyak yang menganggap balas chat malam hari sebagai bentuk loyalitas.
Fleksibel Harusnya Bikin Hidup Lebih Manusiawi
Kerja remote seharusnya memberi ruang untuk hidup yang lebih seimbang. Tapi tanpa kesadaran dan batasan yang jelas, fleksibilitas bisa berubah jadi jebakan.
Maka, penting bagi pekerja dan perusahaan untuk sama-sama membangun budaya kerja yang sehat—di mana produktivitas tidak mengorbankan kesehatan mental.
Karena pada akhirnya, kerja yang baik bukan yang paling lama, tapi yang paling manusiawi. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama