RADARTUBAN - Arus berita buruk yang datang bertubi-tubi di media sosial maupun media massa belakangan ini kerap membuat banyak orang merasa cemas, lelah, dan kewalahan.
Menanggapi fenomena tersebut, aktris sekaligus influencer Maudy Ayunda membagikan pandangannya mengenai pentingnya menerapkan mindfulness untuk menjaga kesehatan mental tanpa harus bersikap apatis terhadap isu-isu yang sedang terjadi di masyarakat.
Baca Juga: Praktisi Mindfulness Adjie Santoso Ungkap Bahaya Hustle Culture dan Cara Jalani 2026 Lebih Tenang
Alasan Biologis di Balik Beban Emosional
Melalui unggahan di kanal YouTube pribadinya bertajuk "mindfulness in the age of bad news", Maudy membeberkan bahwa perasaan tertekan saat menerima kabar buruk terus-menerus sebenarnya merupakan respons biologis dan psikologis yang wajar.
Secara evolusioner, struktur otak manusia memang tidak dirancang untuk menampung paparan berita buruk dalam skala masif secara bersamaan.
"Jadi otak kita tidak didesain sebenarnya untuk mengunduh sebanyak itu kabar buruk. Otak kita juga punya yang namanya negativity bias, di mana kalau melihat sesuatu yang negatif, ada kecenderungan kita menginflasi itu di kepala kita," ujar Maudy Ayunda dalam video unggahannya.
Strategi Membatasi dan Menyeimbangkan Informasi
Untuk menjaga kewarasan di tengah gempuran informasi tersebut, Maudy membagikan beberapa strategi praktis yang dia terapkan sehari-hari.
Langkah pertama yang dilakukannya adalah mengurasi sumber informasi secara selektif. Dia lebih memilih membaca media terpercaya yang menyajikan berita secara mendalam dan penuh konteks ketimbang mengonsumsi potongan informasi singkat yang berpotensi memicu panik.
Selain itu, Maudy juga menetapkan alokasi waktu khusus untuk membaca berita agar tidak terpapar kecemasan sepanjang hari.
Maudy menambahkan bahwa keberanian untuk menetapkan batasan diri sangat krusial ketika dampak emosional negatif mulai terasa.
Dia juga menekankan pentingnya menyeimbangkan asupan informasi harian dengan aktivitas positif, seperti membaca buku, menikmati alam, atau berdiskusi hangat bersama orang-orang terdekat demi menjaga kesehatan mental.
Memahami Batas Kendali Diri demi Ketenangan Jiwa
Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip Stoikisme yang mengajarkan manusia untuk memfokuskan energi pada hal-hal yang dapat dikendalikan serta melepaskan hal-hal yang berada di luar jangkauan pribadi.
"Rasa tenang itu datang dari perasaan ketika kita tahu seberapa jauh sebenarnya batas tanggung jawab atau kendali kita. Pada akhirnya, beban mental di otak dan perhatian kita adalah sebuah sumber daya, dan jumlah yang kita miliki itu terbatas," pungkas Maudy.
Melalui pendekatan mindfulness ini, masyarakat diharapkan tetap dapat mempertahankan empati dan kepedulian sosial terhadap peristiwa di sekitarnya tanpa harus mengorbankan ketenangan jiwa dan kesehatan mental pribadi. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari