RADARTUBAN - Kasus seorang pengemudi ojek online atau ojol yang melaporkan paket berisi narkoba ke Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Lampung beberapa waktu lalu kembali menggegerkan media sosial.
Saat itu, Makmuri, 29, warga Telukbetung Timur, Provinsi Lampung mengaku dijebak oleh oknum polisi saat mengantar paket yang ternyata berisi sabu-sabu.
Kasus pengemudi ojol yang diduga dijebak oknum polisi tersebut sempat menimbulkan kebingungan karena adanya perbedaan keterangan dari pihak BNN Provinsi Lampung. Pada Jumat (26/7), Kabid Brantas BNN Provinsi Lampung Kartoyo menyatakan bahwa peristiwa tersebut merupakan bagian dari proses undercover buy yang sedang diselidiki oleh BNN.
Namun, keterangan berbeda disampaikan oleh Kepala BNN Provinsi Lampung Brigjen Budi Wibowo pada Sabtu (27/7). Budi membantah adanya penjebakan terhadap Makmuri dan menegaskan bahwa seorang oknum polisi telah diamankan sebagai tersangka.
"Itu tidak dijebak, karena memang dia (oknum Polri) penyalah guna, jadi dia yang mesen. Karena kalau penyalah guna itu bisa oknum dari mana saja, oknumnya sudah diamankan dan telah dilakukan pemeriksaan, urinenya positif," jelasnya.
Budi juga menepis adanya proses undercover buy dalam kasus ini. "Jadi soal undercover itu tidak benar, jadi itu control delivery itu salah penyebutan. Jadi teknik dalam pengungkapan narkoba itu ada dua cara, control delivery dan undercover buy," tandasnya.
Kasus pengemudi ojol diduga dijebak oknum polisi semakin menimbulkan kontroversi di media sosial, terutama ketika Makmuri tiba-tiba mengklarifikasi dan meminta maaf. Hal ini membuat netizen heran, karena menganggap Makmuri tidak bersalah dan tidak seharusnya meminta maaf.
Salah satunya dalam postingan akun X @folkshittmedia (11/8) yang manampilan video klarifikasi dari tukang ojol. Video tersebut langsung diserbu komentar netizen.
“Kok malah minta maaf?” tulis akun bibahjenner (11/8).
Komentar serupa juga disampaikan oleh pemilik akun @mittenkitten__, “Orang bantu ungkap kebenaran disuruh minta maaf,” tulisnya.
Selain itu, banyak juga netizen yang menduga permintaan maaf tersebut dilakukan karena adanya intimidasi. “Pasti ini di ancam, gua rasa sih iya tuhh,” tulis akun @vyowiz51 membalas postingan video klarifikasi tersebut.
“Berbai intimidasi nih,” tulis akun @bantalkusam_id menambahkan. Komentar serupa juga disampaikan oleh akun @Ahkaf98, “Pasti abis dapat intimidasi,” tulisnya (11/8).
Dilansir dari radarlawu.jawapos.com (11/8), kejadian bermula pada Rabu (24/7) sekitar pukul 16.00-17.00 WIB.
Makmuri, yang sedang menunggu orderan di dekat rumah makan ayam bakar Soponyono di Jalan Yos Sudarso, Sukaraja, tiba-tiba mendapat pesanan pengantaran barang. Paket tersebut diklaim berisi baju bayi dan harus diantar ke daerah Kemiling, tepatnya di Perumahan Bumi Karomah Jaya.
"Dari aplikasi itu dia minta antarkan barang (baju) ke daerah Kemiling di Perumahan Bumi Karomah Jaya," kata Makmuri.
Namun, Makmuri merasa curiga dengan kondisi paket yang lusuh dan tidak wajar. Ia kemudian memutuskan untuk membuka paket tersebut bersama rekan-rekannya di pangkalan ojek.
"Saya bawa ke posko dan buka paket itu di depan teman-teman. Waktu dibuka ada plastik jatuh yang isinya sabu," ujar Makmuri.
Karena takut, Makmuri langsung melaporkan temuan tersebut ke BNN Provinsi Lampung. Bersama petugas BNN, ia kemudian menuju alamat tujuan pengiriman. Namun, setibanya di lokasi, tidak ada seorang pun ditemukan dan penggerebekan pun gagal.
Makmuri mengaku dicurigai menjadi korban jebakan oknum polisi setelah mengecek kontak pemesan melalui aplikasi get contact.
"Intinya saya ini mau dijebak sama oknum (diduga) polisi. Tahu oknum (diduga) polisi karena dari seragamnya si penerima dan ada teman-temannya. Si penerima pakai kaus coklat polisi gitu, kalau temannya pakai baju preman gitu," tambahnya. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama