Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Sejarah Pemugaran Candi Borobudur dan Perannya Hingga Ditetapkan sebagai Ikon Perayaan Waisak

Ika Nur Jannah • Minggu, 11 Mei 2025 | 14:15 WIB
Sejarah pemugaran Candi Borobudur yang menarik untuk dipelajari.
Sejarah pemugaran Candi Borobudur yang menarik untuk dipelajari.

RADARTUBAN – Candi Borobudur, candi Buddha terbesar di dunia yang dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 oleh Dinasti Syailendra, telah melalui berbagai tahap pemugaran sejak ditemukan kembali pada awal abad ke-19.

Proses pemugaran ini tidak hanya mengembalikan keindahan dan kekokohan candi, tetapi juga menjadikannya pusat perayaan Hari Raya Waisak yang penting bagi umat Buddha di Indonesia dan dunia.

Pemugaran Awal: Upaya Menyelamatkan Warisan Budaya

Pada tahun 1900, Pemerintah Hindia Belanda membentuk panitia khusus untuk memulai pemugaran Candi Borobudur.

Pemugaran pertama yang dipimpin oleh teknisi militer Belanda, Theodor Van Erp, berlangsung antara 1907 hingga 1911.

Fokus utama saat itu adalah memperbaiki stupa induk, dinding lorong, dan selasar candi.

Meski demikian, pemugaran ini belum mampu mengatasi masalah kemiringan struktur yang disebabkan oleh infiltrasi air yang merusak fondasi tanah.

Pemugaran Besar-Besaran 1973-1983: Kolaborasi Internasional untuk Pelestarian

Kerusakan yang terus berlanjut memicu proyek pemugaran besar kedua yang dimulai pada 10 Agustus 1973.

Proyek ini merupakan hasil kerja sama antara pemerintah Indonesia dan UNESCO, dengan dukungan dari 26 negara donor.

Ratusan tenaga ahli dan pekerja lokal terlibat dalam proses ini yang menggunakan metode membongkar batu candi satu per satu, membersihkan, memeriksa, dan memasangnya kembali.

Sistem drainase baru juga dipasang untuk mencegah kerusakan akibat air hujan.

Setelah sepuluh tahun pengerjaan, pemugaran selesai dan secara resmi diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 23 Februari 1983.

Borobudur sebagai Pusat Perayaan Hari Raya Waisak

Tradisi perayaan Hari Raya Waisak di Candi Borobudur dimulai sejak tahun 1929 oleh Himpunan Teosofi Hindia Belanda, yang terdiri dari campuran orang Jawa ningrat dan Eropa.

Waisak merupakan hari suci umat Buddha yang memperingati kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Buddha Gautama.

Perayaan Waisak sempat terhenti selama masa revolusi kemerdekaan dan saat pemugaran besar pada 1973, ketika pusat perayaan dipindahkan ke Candi Mendut.

Namun, setelah pemugaran selesai, Borobudur kembali menjadi pusat kegiatan keagamaan dan perayaan Waisak yang rutin digelar hingga kini.

Perayaan ini tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga simbol toleransi dan penghormatan antarumat beragama di Indonesia.

Warisan Budaya dan Spiritualitas yang Terjaga

Dengan keberhasilan pemugaran yang mengembalikan keindahan dan kekokohan Candi Borobudur, situs ini kini tidak hanya diakui sebagai warisan budaya dunia, tetapi juga menjadi pusat spiritual penting bagi umat Buddha Indonesia dan internasional.

Borobudur terus menjadi ikon perayaan Waisak yang menginspirasi toleransi dan kebersamaan antarumat beragama.

Pemugaran Candi Borobudur yang dilakukan sejak awal abad ke-20 hingga proyek besar 1973-1983 berhasil mengembalikan keindahan dan kekokohan candi Buddha terbesar di dunia ini.

Sekaligus menjadikannya ikon perayaan Hari Raya Waisak yang penting bagi umat Buddha dan simbol toleransi antarumat beragama di Indonesia.

Editor : Yudha Satria Aditama
#ikon #pemugaran #warisan budaya #perayaan waisak #candi borobudur