Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kereta Malam Bukan Pilihan Bijak Untuk Istirahat, Begini Penjelasannya

M. Afiqul Adib • Kamis, 21 Agustus 2025 | 18:05 WIB
Ilustrasi naik kereta malam
Ilustrasi naik kereta malam

RADARTUBAN- Naik kereta malam terdengar seperti keputusan cerdas. “Tidur di perjalanan, bangun-bangun langsung sampai tujuan.”

Hemat waktu, hemat biaya penginapan, dan katanya bisa langsung produktif begitu turun.

Tapi kenyataannya? Bangun-bangun malah pusing, leher pegal, dan mata seperti habis begadang di warnet. Kereta malam, yang awalnya dianggap solusi, berubah jadi sumber kantuk nasional.

Saya pernah jadi penganut ide ini. Berangkat malam, tidur di kereta, sampai pagi langsung kerja. Rasanya efisien. Tapi ternyata, tidur di kereta itu bukan tidur yang sesungguhnya.

Itu lebih mirip rebahan sambil diguncang pelan-pelan oleh nasib. Kursi tegak, suara roda beradu dengan rel, dan lampu kabin yang nggak pernah benar-benar gelap.

Kalau beruntung, bisa tidur satu jam. Kalau apes, cuma bisa merem sambil berharap waktu cepat berlalu.

Dan jangan lupakan drama AC. Entah kenapa, AC kereta malam punya dua mode: dingin banget atau dingin banget plus angin tajam.

Selimut tipis dari PT KAI kadang lebih cocok jadi alas duduk daripada penghangat tubuh. Jadi, selain kurang tidur, kita juga bangun dengan pilek ringan dan rasa rindu akan selimut rumah.

Tentu saja, kereta malam punya kelebihan. Tiketnya sering lebih mudah didapat, dan suasana stasiun malam punya romantisme tersendiri.

Ada rasa tenang, ada lampu redup, ada penumpang yang duduk sambil merenung.

Tapi romantisme itu cepat hilang ketika jam menunjukkan pukul 02.00 dan kamu masih terjaga, mendengarkan suara anak kecil yang belum tidur dan bapak-bapak yang ngobrol soal harga pupuk.

Sesampainya di tujuan, tubuh terasa seperti habis ditumbuk pelan-pelan. Mata berat, kepala kosong, dan rencana produktif langsung berubah jadi rencana cari kopi.

Kalau kamu punya agenda penting pagi itu, misalnya presentasi atau wawancara kerja, maka naik kereta malam bisa jadi keputusan yang keliru. Bukannya segar, kamu malah datang dengan wajah seperti habis mimpi buruk.

Tapi bukan berarti kereta malam harus dihindari selamanya. Ia tetap berguna, terutama kalau kamu tipe orang yang bisa tidur di mana saja—di kursi, di lantai, bahkan sambil berdiri.

Atau kalau kamu memang tidak punya pilihan lain karena jadwal mepet dan dompet tipis. Dalam kondisi tertentu, kereta malam adalah penyelamat. Tapi dalam kondisi ideal, ia lebih cocok untuk perjalanan santai, bukan misi penting.

Jadi, apakah naik kereta malam itu pilihan pintar? Bisa iya, bisa juga bikin ngantuk seharian.

Semua tergantung ekspektasi dan kemampuan tidurmu. Kalau kamu berharap bangun dengan tubuh segar dan pikiran jernih, mungkin lebih baik naik kereta pagi dan bayar penginapan semalam.

Tapi kalau kamu siap dengan risiko leher pegal dan mata panda, silakan naik kereta malam. Siapa tahu, kamu justru menemukan inspirasi di antara dengkuran penumpang dan suara roda yang beradu dengan rel.

Karena dalam hidup, kadang keputusan yang kelihatan efisien justru bikin kita belajar tentang pentingnya tidur yang layak. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Naik kereta malam #tidur tidak nyenyak #efisien #hemat