RADARTUBAN – Sinyal krisis energi kembali terasa di Tanah Air. Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) berlogo asing, yakni Shell dan BP, mulai kehabisan stok bahan bakar minyak (BBM).
Penyebabnya bukan sekadar masalah distribusi, melainkan buntut dari kebijakan pembatasan impor yang menekan suplai bensin di pasar domestik.
Shell melalui pernyataan resminya mengakui bahwa tiga jenis bensin andalannya untuk sementara hilang dari pasaran.
Konsumen di beberapa lokasi pun terpaksa gigit jari karena tidak bisa mengisi penuh kendaraannya.
Perusahaan asal Belanda itu menyebut tengah berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mencari jalan keluar.
Fakta Lapangan: Impor Anjlok, Pasokan Tersendat
Data dari perusahaan riset energi Kpler menunjukkan impor bensin Indonesia turun 22 persen secara tahunan hingga akhir Agustus 2025. Padahal, konsumsi terus meningkat seiring mobilitas masyarakat.
Meski Indonesia memproduksi minyak mentah dari ladang domestik, kapasitas kilang dalam negeri terbatas.
Akibatnya, sebagian besar BBM tetap harus didatangkan dari luar negeri. Ketika kuota impor dipangkas, dampaknya langsung terasa: SPBU non-Pertamina megap-megap.
Menteri Energi Bahlil Lahadalia menyebut, sejumlah perusahaan swasta sudah mengajukan tambahan kuota impor. Namun, pemerintah mendorong mereka untuk membeli dari Pertamina, yang saat ini menguasai mayoritas pasar ritel BBM nasional.
Fakta lain terungkap dari dokumen tender seperti dilansir dari bloomberg.com : Pertamina justru gencar menambah volume impor dalam dua pekan terakhir untuk menutup kebutuhan hingga akhir tahun.
Ironis, ketika Pertamina kian agresif, pemain swasta justru harus menahan laju akibat pembatasan.
Kelangkaan tidak hanya dialami Shell. Jaringan SPBU BP yang dikelola PT Aneka Petroindo Raya juga dilaporkan kekurangan stok sejumlah produk. Perusahaan yang mengoperasikan sekitar 50 SPBU itu mengaku menghadapi kendala serupa.
Situasi ini memperlihatkan betapa rentannya pasar BBM nasional terhadap regulasi impor. Begitu kuota dipotong, perusahaan swasta yang pangsa pasarnya kecil langsung tumbang.
Kelangkaan di SPBU asing bukan hanya soal pasokan, tapi juga cermin dari dominasi Pertamina yang nyaris tak tergoyahkan.
Awal tahun ini, Shell bahkan sudah melepas seluruh jaringan SPBU-nya di Indonesia kepada konsorsium Citadel Pacific Ltd. (Filipina) dan Sefas Group. Keputusan itu mempertegas bahwa bisnis hilir migas di Indonesia tidak ramah bagi pemain non-BUMN.
Pertanyaan besar pun muncul: apakah publik benar-benar diuntungkan dengan pasar yang hampir dimonopoli satu pemain? Atau justru konsumen makin rentan dengan harga dan ketersediaan yang bergantung pada kebijakan tunggal? (*)
Editor : Yudha Satria Aditama