RADARTUBAN – Bagi Sal Priadi, musik bukan sekadar nada atau harmoni. Ia melihat dirinya bukan sebagai musisi, melainkan seorang pencerita — sosok yang hidup dari kisah, tumbuh dari pengalaman, dan menyalurkan makna melalui lagu-lagunya.
Hal itu ia ungkapkan dalam siniar Naik Clas di kanal YouTube Authenticity ID, bersama Oslo Ibrahim dan Soleh Solihun.
Dalam obrolan yang hangat dan jujur, Sal menceritakan perjalanan hidupnya: tentang sebuah kalimat sederhana yang mengubah hidup, keberaniannya meninggalkan Malang, hingga cara uniknya menangkap inspirasi dari keseharian.
“Gue bukan musisi, gue pencerita. Karena yang gue punya memang cerita,” ujar Sal dengan nada tenang namun penuh keyakinan.
Menurutnya, alat musik hanyalah medium. Yang utama adalah narasi, emosi, dan pengalaman manusia yang ia bungkus menjadi lirik.
Kalimat Sederhana yang Mengubah Hidup
Salah satu momen paling berkesan baginya terjadi ketika seorang penggemar menghampirinya dan berkata sambil menangis,
“Terus nulis ya, Mas.”
Kalimat itu menjadi titik balik yang menguatkan tekadnya untuk terus berkarya.
“Saat itu gue ngerasa berguna,” kata Sal. Ia menyebut momen tersebut sebagai dorongan eksistensial — pengingat bahwa menulis bukan hanya tentang dirinya, tapi juga tentang orang-orang yang tersentuh oleh karyanya.
Merantau Demi Musik
Setelah enam tahun di Malang, Sal akhirnya memutuskan pindah ke Jakarta pada akhir 2018.
“Gue mau serius menjalani karier musik,” ujarnya.
Keputusan besar itu terbukti tepat. Lagu ketiganya, “Ikat Aku di Tulang Belikatmu,” berhasil masuk nominasi AMI Awards dan menjadi tonggak awal karier profesionalnya.
Ia menyadari bahwa untuk tumbuh, ia harus keluar dari zona nyaman dan menghadapi dunia yang lebih besar.
Menemukan Lirik dari Kehidupan
Sal tidak menunggu “mood” untuk menulis. Inspirasi bisa datang kapan saja, bahkan dari percakapan acak di jalan.
Ia bercerita pernah mendengar seseorang berkata, “cara mereka tertawa,” dan kalimat itu langsung membentuk skenario lagu di kepalanya.
Begitu pula saat menonton konser — bukan adegan romantis yang ia lihat, melainkan kemungkinan perpisahan yang justru melahirkan lagu baru.
Dari obrolan ringan dan tatapan singkat, lahirlah karya seperti “Kultusan”, lagu yang awalnya hanya dimainkan di tongkrongan namun kini jadi favorit pendengar.
MEMOMEMORIA: Ruang untuk Pulang
Menutup sesi, Sal membagikan kabar gembira. Ia akan menggelar pertunjukan tunggal bertajuk MEMOMEMORIA pada 24–26 Oktober 2025 di Gedung Pusat Film Nasional (PFN), Jakarta Timur.
Konser ini, katanya, bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan ruang untuk pulang — tempat bagi dirinya dan pendengar yang pernah merasa terhubung lewat lirik-liriknya.
“Musik bukan cuma soal nada, tapi jendela menuju rasa,” tutup Sal. “Dan gue cuma penjaga jendela itu.” (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni