Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Ironi Pendidikan Tinggi: Riset LPEM UI Ungkap Puluhan Ribu Lulusan S1 hingga S3 Menganggur

Alifah Nurlias Tanti • Minggu, 14 Desember 2025 | 03:10 WIB
Pengangguran di Indonesia yang menunjukkan angka peningkatan.
Pengangguran di Indonesia yang menunjukkan angka peningkatan.

RADARTUBAN- Fenomena pengangguran lulusan perguruan tinggi kembali muncul. Terbukti bahwa ribuan, jika tidak puluhan ribu, sarjana dan pascasarjana saat ini berada dalam kondisi sulit.

Mereka telah berbulan-bulan mencari pekerjaan yang memenuhi harapan mereka, tetapi ternyata semakin putus asa.

Dalam laporan terbaru Labor Market Brief Volume 6, Nomor 11, November 2025, LPEM FEB UI menemukan fakta yang cukup mengkhawatirkan.

Sekitar 45 ribu lulusan S1 dan lebih dari 6 ribu lulusan S2–S3 kini masuk kategori discouraged workers mereka yang memilih berhenti mencari pekerjaan karena merasa peluang untuk diterima semakin kecil.

Namun, laporan yang disusun oleh Muhammad Hanri, Ph.D., dan Nia Kurnia Sholihah, M.E., menunjukkan bahwa lulusan perguruan tinggi menghadapi tantangan yang berbeda ketika mencari pekerjaan.

Proses pencarian pekerjaan mereka berbeda di tiap kelompok pendidikan karena tantangan yang mereka hadapi tidak sama dengan yang dihadapi lulusan SD hingga SMA.

Banyak dari mereka mulai bekerja dengan harapan gaji yang lebih tinggi, tetapi seringkali tidak sesuai dengan keadaan pasar.

Orang-orang tertentu menghadapi ketidaksesuaian antara bidang studi mereka dan jenis pekerjaan yang tersedia, dan orang lain menghadapi pertanyaan tentang usia karena mereka baru masuk pasar kerja di usia yang lebih matang.

Rasa kecewa dan putus asa pun mulai muncul ketika janji mobilitas sosial dari pendidikan tinggi tidak kunjung terwujud.

Situasi ini menunjukkan bahwa masalah yang dihadapi kelompok berpendidikan rendah jauh lebih kompleks daripada hanya sedikit ruang.

Mereka sering terbentur keterbatasan kemampuan dasar, minimnya akses informasi tentang peluang kerja, hingga hampir tidak adanya ruang untuk naik kelas secara ekonomi.

Pola seperti ini juga ditemukan ILO dan Bank Dunia di banyak negara berkembang.

Selain itu, laporan itu menunjukkan bahwa lulusan SMP menempati sekitar 20 persen dari kelompok pencari kerja yang putus asa, diikuti oleh lulusan SMA yang mencapai 17 persen, menunjukkan bahwa masalah keterampilan tidak hanya dialami oleh mereka yang berpendidikan paling rendah tetapi juga mereka yang berpendidikan menengah.

Selain itu, angka 8 persen lulusan SMK menjadi perhatian. Meskipun demikian, tujuan SMK adalah untuk menghasilkan karyawan yang siap terjun ke dunia kerja.

Namun, data ini menunjukkan bahwa masih ada perbedaan antara apa yang diajarkan di sekolah vokasional dan apa yang diperlukan di lapangan.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun pendidikan memainkan peran penting dalam membuka peluang kerja, itu tidak secara otomatis mencegah seseorang putus asa.

Lulusan dari jenjang SD hingga pascasarjana dapat termasuk dalam kategori pekerja putus asa karena berbagai masalah, seperti kendala struktural, ketidaksesuaian keterampilan, dan perubahan kebutuhan pasar kerja.

Riset ini menegaskan perlunya peningkatan kualitas pendidikan terutama keterampilan yang sesuai kebutuhan industri agar peluang kerja tidak semakin menyempit. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#pascasarjana #pengangguran #lulusan perguruan tinggi #sarjana #discouraged workers