RADARTUBAN - Sebuah patung macan putih yang berada di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, mendadak viral di media sosial sejak akhir Desember 2025.
Patung yang awalnya dibangun sebagai ikon desa tersebut ramai diperbincangkan warganet karena bentuknya yang dinilai tidak lazim, hingga akhirnya menarik perhatian publik secara nasional bahkan internasional.
Patung macan putih tersebut diketahui dibangun pada pertengahan Desember 2025. Pembangunannya dilakukan atas inisiatif Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i, menggunakan dana pribadi sekitar Rp3,5 juta, bukan dana desa.
Patung tersebut dimaksudkan sebagai simbol penjaga desa yang terinspirasi dari cerita dan kepercayaan lokal tentang macan putih, yang dalam budaya Jawa kerap diasosiasikan dengan kekuatan dan perlindungan.
Namun, sejak foto dan video patung tersebut tersebar luas di media sosial pada pekan terakhir Desember 2025, respons publik justru beragam.
Banyak warganet melontarkan komentar bernada satire dan humor, menyebut patung tersebut lebih mirip zebra, kuda nil, hingga hewan imajiner.
Meski menuai cibiran, viralnya patung ini justru membawa dampak tak terduga bagi Desa Balongjeruk.
Memasuki awal Januari 2026, jumlah pengunjung ke lokasi patung meningkat signifikan. Warga dari berbagai daerah datang untuk melihat langsung patung macan putih tersebut dan mengabadikan momen.
Kondisi ini dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk membuka lapak makanan dan minuman, sehingga menggerakkan perekonomian desa secara spontan.
Popularitas patung macan putih ini semakin meningkat ketika, pada awal Januari 2026, muncul kabar bahwa patung tersebut ditawar oleh seorang kolektor asal Bali dengan harga mencapai Rp180 juta.
Informasi ini pertama kali mencuat dari pernyataan pembuat patung, Suwari, yang mengaku menerima tawaran langsung dari pihak kolektor.
Meski tawaran tersebut tergolong fantastis, pemerintah desa bersama warga Balongjeruk secara tegas menolak untuk melepas patung tersebut.
Menurut mereka, patung macan putih kini telah menjadi identitas desa sekaligus daya tarik wisata dadakan yang membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat. Keputusan ini juga diambil melalui musyawarah warga pada pekan pertama Januari 2026.
Menariknya, fenomena patung macan putih Kediri tidak hanya diberitakan media nasional, tetapi juga mulai disorot oleh media luar negeri di kawasan Asia Tenggara.
Hal ini menunjukkan bahwa konten viral berbasis lokal dapat dengan cepat menembus batas geografis di era digital.
Hingga Januari 2026, patung macan putih Desa Balongjeruk masih berdiri di tempat semula dan terus dikunjungi wisatawan.
Dari sebuah patung sederhana yang sempat menuai ejekan, ikon desa ini kini menjelma menjadi simbol kreativitas lokal dan bukti bahwa viralitas dapat membawa dampak sosial dan ekonomi yang nyata bagi masyarakat. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama