RADARTUBAN - Siapa bilang jika hobi itu hanya membuang waktu?
Syafridayu Firauz Saifana membuktikan jika tekun mengulik hobi bisa membuat skill semakin terasah dan karir makin berkembang.
Dari sekadar mengotak-atik aplikasi CorelDRAW secara otodidak di komputer ayahnya ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, Dayu kini sukses berkarir sebagai seorang desainer grafis profesional di Jakarta.
‘’Dulu modalnya cuma mengingat-ingat pelajaran TIK di sekolah karena belum banyak tutorial seperti zaman sekarang, terus aku praktikkan sendiri di rumah,” katanya. Kemampuannya itu semakin terasah saat menginjak usia remaja.
Bahkan, saat dirinya mulai aktif berorganisasi di bangku SMA, perempuan 26 tahun ini dipercaya menjadi layouter majalah sekolah.
Dari situlah, dirinya mulai dipercaya rekan-rekan sebayanya untuk menangani urusan desain.
Menurutnya, bidang ini bukan sekadar mengandalkan ide yang kreatif dan kekinian. Melainkan juga memerlukan teknik yang mumpuni. Sebab, teknik yang bagus dalam menghasilkan gambar akan membuat ide dapat tersampaikan dengan maksimal.
‘’Teknik sangat membantu menerjemahkan kreativitas. Jadi, menurutku kreativitas ide dan teknik itu penting dan akan saling melengkapi dalam hasil akhir sebuah desain,” imbuhnya.
Prestasi lulusan Sekolah Tinggi Multimedia (MMTC) Yogyakarta ini tidak main-main.
Beberapa kali terlibat menjadi visual designer dalam acara-acara besar membuat karyanya terpublikasi di berbagai sudut kota Yogyakarta kala itu dan mendapatkan atensi dari berbagai pihak yang mengapresiasi hasil tangan kreatifnya.
Bahkan, akhir-akhir ini Dayu beberapa kali mendapat permintaan desain untuk menangani kebutuhan media sosial, branding, dan printing dari klien mancanegara.
‘’Saat melihat desain tersebut terpublikasi dan tercetak, aku merasa sangat bangga. Pengalaman-pengalaman itu jadi penyemangat tersendiri untuk terus bekerja di bidang ini,” katanya.
Walau telah menekuni bidang ini dalam waktu yang cukup lama, perempuan asal Tuban ini tidak memungkiri bahwa beberapa kali dirinya mengalami creative block.
Sebagai obatnya, dia memilih untuk sekadar refreshing dengan berjalan santai dan melakukan screen time.
‘’Sebenarnya dengan jalan-jalan dan melihat sekitar, aku jadi banyak menemukan inspirasi lagi. Biasanya aku coba catat atau foto untuk kemudian dijadikan bahan mengulik ide sepulang dari refreshing. Selain itu, crafting juga jadi caraku untuk melepas penat,” lanjut jebolan Mu’allimaat Boarding School ini.
Dayu mencermati bahwa saat ini banyak generasi muda yang memiliki kreativitas tinggi, namun sering kali gagasan mereka hanya tersimpan di kepala karena takut dengan penilaian orang lain.
Dia menyebut bahwa sebuah ide tidak akan memberikan dampak jika tidak segera diwujudkan secara nyata.
“Kuncinya terletak di keberanian untuk mencoba, belajar dari kesalahan, dan tetap konsisten. Dengan memulai lebih dulu, seorang kreator akan dapat belajar hingga menemukan gaya khas tersendiri yang pasti membuat lebih percaya diri,” terangnya.
Selain itu, menurutnya, memiliki lingkaran pertemanan yang tepat dan mencari banyak koneksi adalah investasi jangka panjang.
Lingkungan yang suportif terbukti mampu menumbuhkan semangat berkarya sekaligus membuka berbagai peluang baru untuk kreator terus berkembang di industri kreatif.(saf/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama