Keracunan MBG Makin Disorot, BGN Intip Rahasia Makan Gratis Jepang dan Model Central Kitchen

Tulus Widodo • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 14:19 WIB
Kasus gangguan kesehatan MBG disorot. BGN mempelajari sistem makan sekolah Jepang.
Kasus gangguan kesehatan MBG disorot. BGN mempelajari sistem makan sekolah Jepang.

RADARTUBAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menghadapi sorotan tajam. 

Di tengah berulangnya kasus gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan makanan MBG, Badan Gizi Nasional (BGN) kini memburu pelajaran dari Jepang, negara yang memiliki pengalaman panjang dalam penyelenggaraan makan bergizi di sekolah.

Langkah itu bukan sekadar studi banding. BGN mulai mengkaji model central kitchen alias dapur tersentralisasi yang digunakan dalam sistem makan sekolah Jepang. 

Pada saat yang sama, BGN bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) mengembangkan pilot program berbasis shokuiku, pendidikan pangan dan gizi yang menggabungkan pengetahuan dengan pengalaman siswa.

Baca Juga: BGN Siapkan Marketplace MBG, Celah Main Harga Pemasok Bakal Dipersempit

Kasus Gangguan Kesehatan Jadi Alarm

Kepala BGN Sudaryono sebelumnya mengungkap persoalan yang jauh lebih mendasar. 

Dalam rapat bersama Komisi IX DPR pada 3 September 2026, dia menyebut lebih dari 80 persen kasus keracunan yang terjadi berkaitan dengan pelanggaran standar operasional prosedur (SOP).

“Terkait masalah keracunan, saya kira sebagian besar, lebih dari 80 persen, itu adalah pelanggaran SOP. Yang paling banyak adalah SOP konsumsi waktu,” kata Sudaryono dikutip dari bgn.go.id.

Menurut dia, masalah tidak berhenti pada waktu makan. Penyimpanan, penerimaan bahan pangan, suhu hingga kapasitas dapur juga menjadi titik rawan.

Bahkan, Sudaryono mengakui makanan rusak menjadi salah satu faktor yang banyak ditemukan dalam kasus gangguan kesehatan MBG. 

Lauk dan sayuran menjadi sorotan, dengan protein hewani seperti ayam, telur, ikan dan daging disebut banyak ditemukan dalam kasus tersebut.

“Mau masaknya benar kalau bahan bakunya sudah busuk ya enggak tetap aja,” kata mantan Wakil Menteri Pertanian itu.

Jepang Jadi Cermin, Bukan Sekadar Contoh

Pada Rabu (23/9) lalu, BGN melakukan audiensi dengan JICA Indonesia untuk mempelajari praktik penyelenggaraan makan bagi peserta didik di Jepang. 

BGN juga menyebut Jepang telah mengembangkan program makan bergizi di sekolah selama lebih dari 100 tahun.

Baca Juga: Gedung Telkom Disewa BGN, Danantara Buka Suara soal Isu yang Bikin Publik Bertanya

Salah satu gagasan yang dikaji ialah central kitchen. Dalam model ini, makanan diproduksi di dapur sentral kemudian didistribusikan ke sekolah. 

Bagi BGN, pola tersebut dapat menjadi referensi untuk memperkuat tata kelola, efisiensi, serta pengawasan penyediaan makanan MBG.

Namun, persoalannya bukan semata soal di mana makanan dimasak. Kasus yang muncul justru memperlihatkan bahwa rantai keamanan pangan harus dijaga dari bahan baku, proses produksi, penyimpanan, distribusi hingga makanan benar-benar dikonsumsi siswa.

Tak Hanya Makan, Siswa Diajak Paham Gizi

BGN juga mengembangkan gagasan MBG-JICA Pilot melalui pendekatan shokuiku. 

Konsep Jepang ini menempatkan makanan bukan sekadar menu yang dibagikan, tetapi bagian dari pendidikan pangan dan gizi.

BGN menegaskan tidak semua praktik Jepang akan diterapkan mentah-mentah di Indonesia. Pengalaman tersebut akan dikaji sesuai kebutuhan dan karakteristik MBG.

Dengan begitu, belajar dari Jepang menjadi momentum untuk menguji kembali satu pertanyaan penting: bagaimana memastikan program makan gratis berskala besar tidak hanya bergizi di atas kertas, tetapi juga aman sampai suapan terakhir? (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
BGN Sudaryono Makan Bergizi Gratis kasus keracunan Mbg