Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Bikin Jatuh Cinta, Ini Siasat Winda Amellia Biar Anak Muda Tuban Enggak Malu Belajar Tari Gambyong

Shafa Dina Hayuning Mentari • Minggu, 5 Juli 2026 | 16:40 WIB
Mulai dari Tari Gambyong hingga Gandrung, remaja berusia 16 tahun asal Tuban ini bagikan tips bikin konten tari tradisional yang estetik. (Winda Amellia Untuk Radar Tuban)
Mulai dari Tari Gambyong hingga Gandrung, remaja berusia 16 tahun asal Tuban ini bagikan tips bikin konten tari tradisional yang estetik. (Winda Amellia Untuk Radar Tuban)

RADARTUBANMedia sosial kini tidak lagi sebatas hiburan, melainkan juga menjadi sarana untuk mempromosikan sekaligus melestarikan seni tari tradisional di kalangan generasi muda.

Di tengah gempuran tren modernisasi, Winda Amellia menilai, platform digital sangat efektif untuk mengikis stigma kuno yang melekat pada budaya tradisional dan mengubahnya menjadi konten yang menarik serta edukatif bagi masyarakat luas, khususnya bagi generasi muda.

Dara asal Desa Talangkembar Kecamatan Montong ini menyebut, ruang digital seperti TikTok dan Instagram memiliki potensi besar untuk merangkul ketertarikan anak muda terhadap seni tradisional daerah.

Baca Juga: Dhea Mareta Pilih Lestarikan Tari Tradisional di Tengah Tren Tarian Modern

‘’Hampir semua orang sekarang menggunakan sosial media. Kita bisa memanfaatkannya dengan membuat konten tari pendek yang estetik, menyisipkan edukasi, mengunggah proses di balik layar, hingga berkolaborasi dengan penari modern atau konten kreator lainnya,” ujar Amel kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Mengombinasikan antara tari tradisional dan platform digital untuk melestarikan tidak muncul tanpa dasar. Alumni SMPN 1 Montong ini menceritakan, ketertarikan awalnya pada seni tari juga bermula dari ketidaksengajaan saat menonton dokumentasi tari tradisional di YouTube. Sejak saat itu, dia jatuh cinta pada keluwesan gerak tari Nusantara.

‘’Medsos tidak harus berisi konten-konten kekinian saja, tapi juga harus edukatif. Salah satunya untuk melestarikan budaya daerah,” imbuh remaja 16 tahun ini.

Sejak kiprahnya di tari tradisional, beberapa tarian telah dikuasainya, mulai dari tari gambyong mari kangen, soyong, sesonderan, hingga tari gandrung jejer jaran dawuk.

‘’Setiap jenis tari memiliki karakteristik tersendiri. Seperti tari    gambyong yang mudah dipelajari meski memiliki tingkat kesulitan detail, sedangkan tari gandrung yang paling sulit karena memiliki tempo lagu yang cepat dengan variasi gerakan yang banyak dan dinamis,” lanjutnya.

Meski kini tren tari modern berkembang sangat pesat, remaja berzodiak Leo ini menegaskan komitmennya untuk tetap setia pada jalur tari tradisional. Baginya, menari bukan sekadar hobi, namun juga media pembelajaran yang menyimpan filosofi mendalam di setiap gerakannya.

Kendati demikian, tantangan terbesar saat ini adalah memotivasi generasi sebaya agar mau melirik budaya sendiri.

Untuk mendukung pelestarian tari tradisional, Amel menyebut kolaborasi dari berbagai pihak merupakan hal yang penting, termasuk dalam kegiatan ekstrakurikuler tari di sekolah, keaktifan dalam sanggar seni, serta dukungan penuh dari orang tua. 

‘’Tari tradisional adalah identitas kita. Jika tidak kita jaga bersama, kelak masyarakat bisa kehilangan pengenalan terhadap akarnya sendiri,” pungkas penari yang juga gemar membaca ini.(fud/ds)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #montong #tari tradisional