Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dari Konsep Mens Rea Kita Belajar: Pendapat Boleh Beda, Nggak Harus Ribut

M. Afiqul Adib • Minggu, 11 Januari 2026 | 12:05 WIB
Catatan tentang Mens Rea, Pandji Pragiwaksono dan perbedaan pendapat.
Catatan tentang Mens Rea, Pandji Pragiwaksono dan perbedaan pendapat.

RADARTUBAN - Dalam dunia hukum, ada istilah mens rea yang berarti “niat batin” atau “kesalahan mental” ketika seseorang melakukan tindak pidana.

Artinya, sebuah perbuatan tidak bisa dianggap salah kalau tidak ada niat jahat di baliknya.

Menariknya, konsep ini bisa kita tarik ke kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal perbedaan pendapat.

Komika Pandji pernah menceritakan sebuah bit tentang Haris Azhar yang mengatakan: kalau kita menyampaikan sesuatu dengan kalimat “dalam keyakinan saya”, maka itu tidak bisa dipidana.

Karena memang menurut keyakinan kita, kalau orang lain tidak yakin ya sudah, selesai.

Dari sini kita bisa belajar bahwa perbedaan pendapat bukanlah kesalahan, melainkan bagian dari keragaman cara pandang manusia.

Pendapat Itu Bukan Salah, Hanya Berbeda

Sering kali kita merasa diri paling benar, sehingga mudah menyalahkan orang lain hanya karena mereka berbeda.

Padahal, tidak ada pendapat yang salah. Yang ada hanyalah pendapat baru. Perbedaan pandangan seharusnya dipandang sebagai tambahan perspektif, bukan ancaman.

Sayangnya, budaya kita kadang masih terjebak pada pola pikir “kalau tidak sama dengan saya, berarti salah.”

Akibatnya, diskusi berubah jadi debat kusir, bahkan pertengkaran. Padahal, kalau kita mau sedikit lebih santai, perbedaan bisa jadi bahan tertawaan bersama, bukan sumber konflik.

Jalan Menuju Takwa Itu Banyak

Dalam konteks spiritual, kita sering lupa bahwa jalan menuju kebaikan itu tidak tunggal. Ada banyak jalur, belokan, dan pilihan.

Tidak harus lurus terus, tidak harus belok kiri, tidak harus lewat jalan yang sama. Semua orang punya cara masing-masing untuk mendekatkan diri pada kebaikan.

Karena itu, tidak perlu saling menyalahkan. Perbedaan cara pandang bukan berarti ada yang sesat atau salah.

Justru, keragaman itu memperkaya pengalaman hidup.

Sama seperti jalan raya, ada banyak rute menuju tujuan yang sama. Yang penting bukan jalannya, melainkan sampai pada tujuan dengan selamat.

Santai Saja, Jangan Gampang Gumunan

Intinya, ketika ada perbedaan, mari kita belajar untuk saling menertawakan saja.

Tidak perlu serius-serius amat. Hidup sudah cukup berat, jangan ditambah dengan ribut soal pendapat. Ojo gampang gumunan, seng santuy wae.

Dengan sikap santai, kita bisa lebih mudah menerima perbedaan. Diskusi jadi lebih sehat, hubungan sosial lebih harmonis, dan energi tidak habis untuk hal-hal yang tidak perlu.

Pada akhirnya, perbedaan pendapat adalah hal biasa, bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Dari konsep mens rea kita belajar bahwa niatlah yang menentukan salah atau tidaknya sebuah tindakan. Begitu juga dengan pendapat: berbeda bukan berarti salah. Tidak ada pendapat yang salah, yang ada hanyalah pendapat baru.

Karena itu, mari berhenti menyalahkan orang lain hanya karena mereka berbeda. Jalan menuju kebaikan itu banyak, dan setiap orang punya caranya sendiri.

Jadi, ketika ada perbedaan, tertawakan saja, nikmati prosesnya, dan tetap santuy. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#pandji pragiwaksono #beda #Perspektif #hukum #mens rea