RADARTUBAN - Pemerintah Korea Selatan melalui Dinas Pendidikan Kota Seoul secara resmi membuka program pertukaran pelajar internasional bagi siswa Indonesia dari jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).
Informasi pembukaan program ini diumumkan pada 25 Januari 2026 dan menjadi peluang besar bagi pelajar Indonesia untuk merasakan pengalaman pendidikan lintas negara.
Program yang dikenal dengan nama International Joint Class ini dirancang untuk memperluas wawasan global siswa sejak usia dini.
Tidak hanya siswa SMA, program ini juga terbuka bagi siswa tingkat SD dan SMP, sesuatu yang relatif jarang ditemui dalam program pertukaran pelajar internasional.
Kegiatan pembelajaran dilakukan melalui kombinasi tatap muka langsung di Korea Selatan dan kelas daring, menyesuaikan dengan kurikulum serta kesiapan sekolah mitra.
Pelaksanaan program berpusat di Seoul, Korea Selatan, bekerja sama dengan Sekolah-sekolah di Indonesia yang telah menjalin kemitraan pendidikan.
Dalam program ini, siswa akan mengikuti kelas bersama pelajar Korea, mempelajari budaya, bahasa, serta sistem pendidikan Korea Selatan yang dikenal memiliki kualitas tinggi.
Tujuan utama dibukanya program ini adalah untuk meningkatkan kompetensi global siswa, memperkuat pemahaman lintas budaya, serta melatih kemampuan komunikasi internasional.
Selain itu, program ini juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4, yakni pendidikan berkualitas dan inklusif bagi semua.
Proses pendaftaran dilakukan melalui jalur resmi yang ditentukan oleh Dinas Pendidikan Seoul dan mitra pendidikan di Indonesia.
Calon peserta biasanya perlu melengkapi persyaratan administratif seperti surat rekomendasi sekolah, formulir pendaftaran, serta memenuhi kriteria akademik tertentu.
Informasi teknis terkait jadwal dan mekanisme seleksi disesuaikan dengan kalender akademik masing-masing sekolah.
Program pertukaran pelajar ini diharapkan dapat membuka akses pendidikan internasional yang lebih luas bagi pelajar Indonesia.
Dengan pengalaman belajar langsung di lingkungan global, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga keterampilan sosial dan budaya yang penting untuk menghadapi tantangan dunia di masa depan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni