Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mempertanyakan Apakah Program KKN Masih Relevan di Era Digital?

M. Afiqul Adib • Rabu, 8 Juli 2026 | 06:54 WIB
merefleksikan relevansi KKN, peluang digitalisasi desa, serta masa depan program ini di tengah perkembangan teknologi. (Husniati Salma on Unsplash)
merefleksikan relevansi KKN, peluang digitalisasi desa, serta masa depan program ini di tengah perkembangan teknologi. (Husniati Salma on Unsplash)

RADARTUBAN - Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah salah satu program wajib yang sudah lama menjadi bagian dari pendidikan tinggi di Indonesia.

Tujuan awal adanya KKN adalah mempertemukan mahasiswa dengan masyarakat, sehingga mereka bisa mengaplikasikan ilmu yang dipelajari di kampus untuk membantu kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya di desa.

KKN menjadi wadah pengabdian sekaligus pembelajaran nyata tentang kehidupan masyarakat.

Namun, seiring berjalannya waktu, tantangan masyarakat ikut berubah. Di era digital, kebutuhan masyarakat tidak lagi hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga tentang akses informasi, literasi digital, dan pemanfaatan teknologi.

Baca Juga: Kenapa Banyak Mahasiswa Jatuh Cinta saat KKN? Ini Alasannya

Tantangan masyarakat di era digital membuat kita perlu mempertanyakan: apakah KKN masih relevan dengan bentuk yang sama seperti dulu?

Jawabannya, KKN masih dibutuhkan, tetapi dengan penyesuaian.

Apakah KKN masih dibutuhkan? Ya, karena masyarakat tetap membutuhkan pendampingan. Namun, kontribusi mahasiswa kini tidak hanya bersifat fisik seperti membangun jalan atau pos ronda. 

Mahasiswa bisa berperan dalam hal-hal yang lebih kontekstual, seperti mengajarkan literasi digital, membantu UMKM masuk ke platform online, atau mendampingi desa dalam mengelola data.

Salah satu peluang besar adalah digitalisasi desa. Desa-desa di Indonesia memiliki potensi besar, tetapi sering kali terhambat oleh keterbatasan akses teknologi.

Mahasiswa bisa membantu memperkenalkan aplikasi pertanian digital, sistem pemasaran online, atau bahkan platform administrasi desa berbasis teknologi. Dengan begitu, KKN menjadi relevan bukan hanya untuk masyarakat, tetapi juga untuk perkembangan bangsa di era digital.

Meski demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa pelaksanaan KKN masih menghadapi banyak kendala.

Kritik dan evaluasi terhadap KKN sering muncul, mulai dari program yang kurang terarah, kegiatan yang hanya formalitas, hingga minimnya dampak jangka panjang. Evaluasi ini penting agar KKN tidak sekadar menjadi rutinitas akademik, tetapi benar-benar memberi manfaat nyata.

Masa depan KKN di tengah perkembangan teknologi bergantung pada kemampuan perguruan tinggi untuk beradaptasi. Masa depan KKN bisa lebih relevan jika diarahkan pada penguatan kapasitas masyarakat menghadapi era digital.

Mahasiswa tidak hanya belajar tentang pengabdian, tetapi juga tentang bagaimana ilmu pengetahuan bisa menjawab tantangan zaman.

Dengan demikian, KKN tetap relevan, tetapi harus bertransformasi. Dari sekadar kerja fisik menjadi kerja berbasis pengetahuan dan teknologi.

Dari sekadar formalitas menjadi program yang benar-benar memberi dampak. Dan dari sekadar kewajiban menjadi pengalaman yang membentuk mahasiswa sebagai agen perubahan di era digital. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Era digital #kuliah kerja nyata #mahasiswa #pendidikan tinggi #kkn