RADARTUBAN — Apa jadinya jika ucapan seorang pemimpin tentang pendidikan justru membuat anak muda bertanya, “Untuk apa sekolah tinggi-tinggi?”
Pertanyaan itu menjadi sorotan Ustaz Felix Siauw saat mengkritisi pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai keberhasilan seseorang yang tidak sepenuhnya bergantung pada pendidikan formal.
Menurut Felix, narasi semacam ini berisiko keliru dipahami apabila pengalaman satu orang dijadikan gambaran untuk kondisi masyarakat secara umum.
Dalam pemaparannya, Felix menyinggung penggunaan Bahlil Lahadalia sebagai contoh. Ia menilai, menjadikan perjalanan satu individu sebagai dasar untuk membentuk kesimpulan umum merupakan cara berpikir yang keliru.
Baca Juga: Kepala MI Ash Shomadiyah Tuban Mochammad Saifullah: Membaca adalah Titik Pangkal Pendidikan
Keberhasilan seseorang, lanjutnya, tidak dapat dijadikan pembenaran untuk menggeneralisasi fungsi pendidikan formal bagi seluruh masyarakat.
“Mungkin betul ada faktanya (seperti Bahlil), tapi jangan sampai kita mengeneralisir... Karena fakta per-case tidak bisa menutupi sebuah formula yang bersifat umum,” ujar Felix.
Persoalan tersebut, kata Felix, menjadi lebih serius karena ucapan seorang pemimpin memiliki pengaruh besar terhadap cara masyarakat memandang pendidikan.
Ia mempertanyakan pesan yang mungkin diterima anak muda apabila keberhasilan tanpa pendidikan formal disampaikan tanpa konteks yang tepat.
“Ngapain kita sekolah tinggi-tinggi dan bagus-bagus kalau pejabat/Wapres saja tidak sekolah tinggi? Lebih baik nyewa buzzer atau punya uang daripada pintar,” kata Felix, menggambarkan kemungkinan persepsi yang dapat muncul, khususnya di kalangan generasi muda.
Felix juga menyoroti pola pernyataan kontroversial yang kemudian diikuti klarifikasi. Menurutnya, cara tersebut justru dapat membuat publik kebingungan karena pesan awal dan penjelasan berikutnya seolah bertolak belakang.
Dalam komunikasi seorang pemimpin, pesan seharusnya disampaikan secara jelas sejak awal agar tidak menimbulkan tafsir yang kontraproduktif.
Ia kemudian menggambarkan pesan yang semestinya disampaikan pemimpin ketika berbicara mengenai pendidikan. Pendidikan, menurutnya, tetap harus ditempatkan sebagai sesuatu yang penting, sembari memberikan dorongan kepada mereka yang tidak memiliki kesempatan memperoleh pendidikan di institusi favorit.
“Ekspektasi kita dari pemimpin itu bilang: ‘Pendidikan itu sangat penting. Tapi bagi teman-teman yang belum beruntung masuk sekolah/univ favorit, jangan putus asa karena tekad dan kerja keras tetap bisa mengantarkan kalian pada keberhasilan.’ Nah, itu yang kita harapkan, bukan malah mendegradasi fungsi sekolah.”
Kritik tersebut juga berkaitan dengan pandangan Felix mengenai komunikasi publik pejabat. Masyarakat memiliki ekspektasi berbeda ketika mendengarkan ucapan pemimpin negara.
Baca Juga: MK Tegaskan Dana MBG Harus Dipisah, Anggaran Pendidikan Tak Boleh Lagi Dibebani Program Makan Gratis
Dalam konteks pemerintahan, rakyat membutuhkan informasi yang serius, jelas, dan dapat menjadi pegangan, bukan pernyataan yang kemudian harus diluruskan karena menimbulkan tafsir berbeda.
“Komedi itu bermain di wilayah ekspektasi... tapi kalian (pemerintah/pejabat) itu dibayar untuk melakukan sesuatu yang serius, karena permasalahan-permasalahan rakyat ini terlalu serius untuk dipecandain,” tegasnya.
Bagi Felix, persoalan komunikasi pemerintah bukan sekadar soal apakah sebuah ucapan dimaksudkan sebagai candaan atau tidak.
Yang lebih penting ialah dampak pesan tersebut setelah diterima masyarakat. Ketika pejabat berulang kali menyampaikan hal yang menimbulkan kontroversi lalu memberikan klarifikasi, kepercayaan publik berpotensi ikut terkikis.
“Kalau mereka terus-menerus ngeles dan tidak live up to expectation, yang terjadi adalah hilangnya rasa trust,” ujar Felix.(*)
Editor : Hardiyati Budi AnggraeniSumber : Youtube Felix Siauw