RADARTUBAN - Komitmen anti rasisme sepak bola kembali ditegaskan oleh Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, sebagai bagian penting dalam pembenahan sepak bola nasional yang berkelanjutan.
PSSI menilai isu anti rasisme sepak bola tidak bisa dianggap sepele di tengah upaya meningkatkan kualitas kompetisi nasional.
Pernyataan ini muncul sebagai respons atas dinamika yang terjadi di lapangan, terutama dalam kompetisi usia muda hingga profesional.
Pembinaan Karakter Jadi Fondasi Sepakbola Nasional
Erick menekankan bahwa pembinaan pemain tidak cukup hanya berorientasi pada kemampuan teknis semata.
Menurutnya, karakter menjadi elemen penting dalam membangun masa depan sepakbola Indonesia yang lebih sehat.
Baca Juga: PSSI 96 Tahun: Momentum Refleksi dan Fondasi Menuju Piala Dunia 2030
Ia menyebut bahwa nilai seperti fair play, disiplin, dan penghormatan terhadap lawan harus ditanamkan sejak dini dalam sistem pembinaan.
“FIFA dan PSSI tidak membenarkan segala bentuk ucapan dan ungkapan rasisme di sepak bola. Baik di kancah internasional dan juga nasional. Sejak usia muda, pemain harus dibentuk dengan prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, dan penghormatan kepada wasit. Prestasi tidak cukup hanya dengan skill. Prestasi harus ditopang karakter dan watak yang baik," ujarnya.
Nilai anti rasisme sepak bola menjadi bagian dari pendidikan moral yang harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas teknik pemain.
Peran Operator dan Klub Harus Lebih Tegas
PSSI meminta operator kompetisi seperti I-League untuk memperkuat pengawasan dalam setiap pertandingan.
Kompetisi seperti Liga 1 Indonesia dan Liga 2 Indonesia juga diharapkan konsisten menerapkan prinsip anti rasisme sepak bola.
Tidak hanya operator, klub juga diminta aktif melakukan edukasi kepada pemain terkait nilai toleransi dan sportivitas.
Langkah ini penting agar kasus yang mengandung unsur diskriminasi tidak kembali terulang di masa depan.
Baca Juga: PSSI Tunjuk David Nascimento Tangani Garuda United, Proyek Besar Menuju Piala Dunia U-17 2027
Edukasi dan Sosialisasi Harus Konsisten
PSSI menegaskan bahwa edukasi mengenai anti rasisme sepak bola harus dilakukan secara berkelanjutan.
Materi tentang anti-kekerasan, disiplin, dan penghormatan terhadap wasit perlu menjadi bagian dari kurikulum pembinaan.
Kompetisi usia muda seperti Elite Pro Academy diharapkan menjadi ruang belajar yang aman dan mendidik.
Pengawasan pertandingan juga harus diperketat untuk memastikan semua aturan berjalan dengan baik.
Dengan pendekatan ini, pemain muda tidak hanya berkembang secara teknik tetapi juga mental dan emosional.
Penyelesaian Kasus Jadi Contoh Positif
Dalam kasus yang melibatkan pemain muda, PSSI mengapresiasi langkah damai yang dilakukan oleh Bhayangkara FC dan Dewa United FC.
Kedua klub dinilai mengedepankan nilai persatuan dalam menyelesaikan persoalan.
Pertemuan antara Fadly Alberto dan Rakha Nurkholis menjadi contoh penyelesaian konflik yang konstruktif.
Erick menyebut langkah tersebut mencerminkan semangat kebangsaan yang harus dijaga dalam sepak bola.
Anti Rasisme Sepak Bola Jadi Tanggung Jawab Bersama
Isu anti rasisme sepakbola bukan hanya tanggung jawab federasi semata.
Seluruh pemangku kepentingan, mulai dari operator, klub, hingga pemain, harus memiliki komitmen yang sama.
Dengan sinergi yang kuat, sepak bola Indonesia diharapkan menjadi lebih inklusif dan berintegritas.
Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya membangun citra positif sepakbola nasional di mata dunia.
Ke depan, konsistensi dalam menegakkan nilai anti rasisme sepak bola akan menjadi indikator penting dalam keberhasilan reformasi sepak bola Indonesia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni