RADARTUBAN – Bursa transfer raksasa Serie A, Juventus mendadak memanas. Kesepakatan yang semula diperkirakan berjalan mulus kini justru terancam gagal total.
Penyebabnya bukan soal biaya transfer, melainkan tuntutan gaji yang dinilai terlalu tinggi dari bek muda Bosnia-Herzegovina, Tarik Muharemović.
Situasi ini membuat Bianconeri berada di persimpangan. Bertahan dalam negosiasi dengan risiko menguras struktur gaji, atau mundur dan mencari target baru sebelum disalip klub-klub Liga Inggris.
Negosiasi Mendadak Buntu
Kabar tersebut diungkap media Italia Gazzetta dello Sport melalui laporannya di media sosial.
"Transfer Tarik Muharemović ke Juventus mengalami kebuntuan. Sang pemain meminta gaji bersih sebesar 3,5 juta euro per tahun, angka yang dianggap terlalu tinggi oleh Juventus. Muharemović yakin ada klub Premier League yang bersedia memenuhi permintaannya, sehingga Juventus kini menyiapkan segala kemungkinan." tulis Gazzetta.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa persoalan utama bukan lagi kualitas pemain, melainkan perbedaan valuasi terhadap nilai kontrak.
Juventus Tak Mau Rusak Struktur Gaji
Juventus dikenal cukup disiplin dalam menyusun struktur penggajian pemain.
Karena itu, permintaan sebesar 3,5 juta euro bersih per musim dinilai belum sebanding dengan status dan pengalaman Muharemović.
Di sisi lain, kepercayaan diri sang pemain yang kini menjadi rekan setim kapten Timnas Indonesia, Jay Idzes di Sassuolo itu juga bukan tanpa alasan.
Ketatnya persaingan di Premier League membuat banyak klub Inggris berani menawarkan kontrak lebih besar demi mengamankan pemain yang dianggap memiliki prospek jangka panjang.
Premier League Jadi Ancaman Serius
Jika benar ada klub Premier League yang siap memenuhi tuntutan tersebut, Juventus berpotensi kehilangan targetnya sebelum negosiasi mencapai garis akhir.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Juventus maupun perwakilan Muharemović terkait perkembangan negosiasi tersebut.
Namun, laporan Gazzetta dello Sport mengindikasikan bahwa Bianconeri mulai menyiapkan skenario alternatif apabila pembicaraan benar-benar menemui jalan buntu.
Drama ini menunjukkan satu kenyataan di bursa transfer modern: bukan hanya nilai transfer yang menentukan.
Dalam banyak kasus, angka di slip gaji justru menjadi penentu apakah sebuah transfer berakhir dengan tanda tangan atau sekadar menjadi cerita yang gagal diwujudkan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni