RADARTUBAN - Ketika AI kini menjadi primadona baru bagi perusahaan teknologi, muncul kekhawatiran publik terkait dampak lonjakan energi yang kini semakin membuat resah.
Hal ini diperkuat setelah sebuah survei dai perusahaan pembangkit listrik tenaga surya Suntrun, gang menunjukkan bahwa 80 persen pembangunan pusat data berimbas pada kenaikan tagihan listrik.
Kekhawatiran ini sejalan dengan data dari Administrasi Informasi Energi AS (EIA) yang menunjukkan adanya lonjakan signifikan terhadap permintaan listrik setelah permintaan stabil pada satu dekade kebelakang.
Laporan itu juga merinci dalam lima tahun terakhir konsumsi energi listrik pada sektor komersial terutama pusat data mengalami kenaikan sebesar 2,6 persen.
Angka tersebut jauh melampaui konsumsi rumah tangga yang hanya naik 0,7 persen.
Sedangkan secara total, pusat data di Amerika Serikat kini telah menghabiskan sekitar 4 persen dari total daya sumber listrik di negara tersebut.
Lonjakan ini diperkirakan akan terus terjadi hingga mencapai 12 persen pada tahun 2028.
Meski begitu, rata-rata energi listrik yang digunakan dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga surya dan angin.
Keduanya dipilih karena memiliki biaya yang tergolong rendah dengan waktu pembangunan yang hanya sekitar 18 bulan.
Tetapi potensi perubahan aturan di Amerika Serikat akibat gejolak politik di sana diperkirakan akan menghambat pertumbuhan energi terbarukan setelah tahun 2026.
Sedangkan energi gas alam seringkali mengalami banyak kendala, apalagi dengan durasi pembangunan yang mencapai empat tahun dan keterlambatan produksi turbin.
Hal ini diperumit dengan pasokan gas alam yang dialihkan untuk ekspor, bukan untuk kebutuhan dalam negeri.
Hal ini membuat posisi pusat data menjadi cukup sulit. Ditambah belakang persepsi publik dikabarkan semakin negatif terhadap AI terutama karena banyak bidang pekerjaan yang telah diambil alih oleh teknologi tersebut.
Jika konsumsi energi terus meningkat, bukan tidak mungkin AI akan menjadi kambing hitam bagi masyarakat yang tidak puas. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni